Senin, 12 November 2012

Lagu-Laguan



Ga sengaja, waktu nonton tivi waktu ga ada acara yang terlalu bagus, dan kesasar di channel tivi kabel, dan kebetulan lagi muter lagu "Kesepian Kita" -nya Pass Band ft. Tere. Wuiss kerennyaa, adem deh rasanya. Cukup sering si kayaknya lagu ini diputer di beberapa acara atau sengaja dinyanyikan lagi sama musisi jaman sekarang.
Di tahun 2012 ini, Tere udah duduk di kursi DPR sedangkan personel Pass Band nya entah ada dimana. Ya, semoga di waktu-waktu ini musisi kita semakin "insaf" dan menemukan jalannya dalam menciptakan dan membawakan lagu yang enak dan adem kayak lagu-lagu jaman dulu. Amin. :)

Kamis, 02 Agustus 2012

Hentakan Ini Terlampau Hebat

Hari ini hentakan ini tiba-tiba terlampau bertubi tubi datang dan menghantam. Sebenarnya keadaan memang sudah agak kacau dari awalnya, kacau balau dan menekan. Tekanan itu sudah sampai antiklimaksnya saat ternyata semua hantaman-hantaman yang entah dari mana asalnya itu menekan kembali.
Bukan sekali dua kali ini aku mendapat tekanan dari "mini-hidup" ini. Agak kacau dan membuat stress karena ada di tepian dua jurang yang ketika salah sedikit kaki ini berpijak, maka habislah sudah hidup ini. Tidak kupungkiri, memang ada beberapa unsur kekacauan ku yang kubuat di sini. Tapi aku sudah lepas tangan saat semua sudah menjadi terlampau sedemikian buruknya. Aku sudah lepas tangan, dan mereka belum. Justru mereka kini ada di barisan yang cukup aman. Yah, mungkin aku memang sudah terbaca bahwa aku bukan seorang "save-player" dan aku memang risk taker di hampir segala kemungkinan hidup. Tapi aku tidak sebodoh itu, namun aku hanya lelah.
Kelelahan ini benar benar menjangkit dan memuncak di hari ini. Di kala suatu hal terungkap dari semua yang sengaja ditutupi. Tabir itu tersingkap dan dengan indahnya menari-nari di memoriku, visiku, dan pikiranku di alam bawah sadar. Suatu hal lain itu pun bertubi-tubi datang ketika aku harus mengetahui fakta di balik seseorang yang berusaha aku support dan ternyata dia dengan indahnya bermuka dua dan menghakimi di balik punggung saat aku tidak ada, dan tertawa terbahak ketika semua kejelekanku terungkap dan dibicarakan. Kemudian di hari yang sama dia masih bisa tertawa senang denganku -yang entah aku tidak tahu apakah itu tulus atau tidak- bersamaku. Sesuatu yang menyakitkan dan serasa ditusuk dengan tombak berkarat.
Fakta lain yang harus kutelan pahit pahit adalah ketika orang yang mungkin selama ini telah berbuat baik padamu, ternyata mungkin telah menghakimimu di belakangmu dan inilah yang dinamakan muka dua. Mereka munafik, aku hanya bisa menjerit demikian di dalam hati ini. Munafik itu benar-benar menyakitkan dan mengesalkan. Rasanya kepala ini cukup berat untuk menampung semua hal yang terjadi di hari ini, ini sangat kompleks dan bertubi-tubi.

Oke, seharusnya mungkin aku cukup tampikkan hal hal tadi dan tidak usah memikirkannya dalam-dalam, namun entah mengapa, rasanya sudah banyak sekali yang tertahan dan terpendam di otak ini sebelum hantaman hari ini datang. Pedih rasanya menanggung hal-hal ini, ah aku mengeluh, dan selalu mengeluh yang demikian. Bukan karena aku kurang mensyukuri nikmat-Nya, namun aku terheran-heran, sekarang "mini-hidup" ini terkesan begitu nyata dan aku sekarang ada di keadaan dimana 30% orang benar-benar tidak menyukaiku dengan apapun yang telah kuperbuat, 30% orang netral -bisa suka maupun tidak-, serta 30% lagi adalah yang benar-benar temanku yang selalu mendukungku dan mengingatkan ketika aku salah. Tidak baiknya adalah, 30% yang selalu menghakimiku jelek adalah yang secara geografis cukup dekat dan secara pokitis cukup didengarkan dan sangat berpengaruh. 
Ya, wallahualam. Ya Allah semoga aku didekatkan dengan hamba-hamba-Mu yang senantiasa bertaqwa dan bersabar. Semoga semua yang terjadi sekarang dapat menjadi sesuatu pembelajaran hidup yang tidak akan pernah kulupakan. Serta, tak lupa aku selalu berharap bahwa Romadhon kali ini akan mendapatkan pelajaran yang lebih baik daripada yang tahun lalu sehingga dapat membuatku menjadi seorang pribadi yang lebih baik lagi, Amin.

Sabtu, 19 Mei 2012

(tidak sempat memikirkan judul)

Liburan, berati meninggalkan
Meninggalkan aktifitas sehari-hari
Hari-hari liburan akan berbeda
Berbeda di kala bisa atau tidak dipahami
Pahami untuk suatu kesenjangan yang rumit
Rumit dalam pemaknaan
Pemaknaan yang bisa membuat salah
Salah satu dan lainnya sama sama berpendapat
Pendapat bisa menghasilkan selisih
Selisih sangat dekat dengan pertikaian,

atau selisih hanya akan berpengaruh pada rasa di dalam
atau selisih hanya akan menimbulkan percikan kesal
atau selisih akan menimbulkan sesal

dan selisih jugalah, yang akan dapat menghakimi.

Minggu, 08 April 2012

Awan dan Pelangi

Perubahan itu baik, karena hidup itu dinamis.
Tapi, bagaimana jika perubahan itu justru mengarahkan kita kepada hal yang tidak lebih baik?
Apakah itu harus tetap terjadi? Entahlah.
Tidak ada seorang pun yang berhak menggenggam takdir, tidak pula aku, kamu, dia, siapapun.
Tetapi perubahan memang hanya suatu bagian dari takdir, yang akan tetap berubah.
Apakah apa yang kau simpan dulu, masih sama? setelah sekian lama perjalanan yang bahkan baru menapaki halaman rumah.
Apakah apa yang kau puja, kau harap, dan kau tumpu, masih tetap berada di tempatnya? setelah kau mengerti dan paham semua jalan yang akan ditempuh.
Apakah apa yang yang kuharapkan itu hanyalah suatu angan berbatas waktu? yang entah kapan akan terbentur kontras antara takdir dan waktu.
Perubahan ini mungkin cukup baik, namun aku tidak merasakan kebaikan ini,
Hal yang sampai padaku, menembus kulit dan seluruh ototku, adalah kekecewaan akan sikap yang berubah entah bagaimana alasan yang kau buat.
Salahkan aku, memiliki kekecewaan ini.
Salahkan aku, jika memang kau lebih nyaman dengan ini.
Salahkan aku, jika aku tidak bisa membuatmu tersenyum dalam hatimu.
Salahkan aku, jika justru menambah kekalutan pikiranmu.
Salahkan aku, jika engkau pikir inilah yang terbaik.



Salahkan aku, jika aku tidak sanggup mengayunkan tongkat sihirku, agar membuatmu jauh lebih bahagia.
Salahkan aku, jika tidak sanggup menambah warna pelangimu setelah mendungmu.

Tapi, semampuku, aku ingin mempersembahkan warna terindah yang kumiliki dari pelangiku, yang kini tertutup awan.

-sebuah tulisan tentang angan angan di atas awan, yang entah kapan aku bisa mencapainya-

Jumat, 06 April 2012

Reaksi

Entah apa yang kulihat akan selalu berkebalikan dengan apa yang "mereka lihat"
Ah entah, aku tak peduli
Aku juga tak peduli ketika tingkahmu -yang menurut mereka baik nan lucu- menyeruak ke permukaan dan membuat mereka memberikan hatinya padamu, yah mereka.
Dan aku juga tak peduli
Aku benar-benar dalam keadaan apatis, karena itu aku tidak peduli.
Anggap aku laki-laki sehingga kau bisa mengerti apa arti kata "tak peduli" dariku.
Karena aku benar-benar tak peduli, sekali lagi tak peduli.

Tapi di titik ini kau berubah, menjadi jauh lebih iritatif.
Padaku? iya, sadar atau tidak sadar, kau membuatku teriritasi.
Bahkan satelit pun akan lama bertahan dalam orbitnya,
Bahkan pohon pun masih berjuang bertahan dengan akarnya,
Bahkan mahasiswa pun bertahan demi masa depannya,
dan?

Orbit itu bisa berubah, namun tak selayaknya secepat itu.
Ketika reaksi adhesi berlangsung, tak sebijaknya dihentikan dan digantikan dengan proses adisi.
Kau tau kenapa bahan baru perlu waktu minimal 10 tahun untuk bisa dijadikan suatu penemuan baru?
Karena membutuhkan waktu, untuk meneliti in vitro, in vivo, dan human test.

Ketika suatu NaOH berusaha membuat netral larutan H3PO4, tidak selayaknya ia menetralkan HCl.
HCl pasti akan lebih mudah netralnya, lebih mudah untuk diikat hanya dengan 1 ion H
Aku tau H3PO4 akan membutuhkan ion H 3 kali lipat,
tapi kau tau? garam yang dihasilkan akan jauh lebih unik: Na3PO4.
Iya, Na3PO4, bukan hanya NaCl yang sering ibu-ibu pakai di dapur.

Logis bagimu? untuk dapatkan paten hanya dalam waktu kurang dari sebulan?
logis bagimu? untukmenjalankan penelitianmu sekaligus memproses paten untuk judul yang sama?
Entah bagaimana jalan pikiranmu.
-sekali lagi aku tak peduli-
Namun aku yakin, jawabannya adalah: tidak logis.

Bagaimana menjalankan hal yang tidak -atau kurang- logis?
Ah aku yakin kau punya logika
Untuk memainkan kata-katamu
Tanpa satu hal.
Yaitu perasaan.

Sekian.

Senin, 12 Maret 2012

Notalgia Masa Kanak-Kanak

Masa kanak-kanak, katanya si masa masa dimana seorang anak mulai mengenal dunianya, mulai diajarkan segala dasar dari dasarnya segala ilmu, yaitu budi pekerti. Serta mulai diasah psikomotornya dengan banyak diajarkan kerajinan tangan (yang saat itu aku adalah salah satu murid terpayah di TK ku), mulai tau baca-tulis (dulu juga lumayan lambat belajar baca tulis, duh), dan mulai mengenal sekolah dalam pemahaman yang simpel dan diharapkan menyenangkan. Sebenernya masih banyak hal-hal fundamental lain yang menarik juga kalo mau dibahas, tapi untuk kali ini aku justru mau mengulas sedikit tentang masa kecil saya yang agak *ehem* yah lumayan bisa dibilang bahagia, tapi juga tetep membutuhkan perjuangan penyesuaian diri yang lumayan rumit kayaknya. Buktinya, saya sekarang jadi agak rumit orangnya #eh

Jadi masa dulu ceritanya saya dan mami diboyong sama babeh saya ke tempat babeh mengadu ilmu pada Sang Guru. Umur waktu itu sekitar 2 tahun 8 bulan. Masih unyu unyu nya itu :D
Saat itu tanpa suatu alasan yang jelas aku minta sekolah. Pas umur segitu kalo di daerah kampung halaman biasanya si anak-anak belom pada disekolahin (jaman itu belom ada playgroup atau PAUD atau taman bermain atau apalah namanya). Ya, tanpa suatu alasan yang jelas pula mami-babeh langsung mengiyakan saja. Padahal waktu itu tempat tinggal yang babeh sewa itu cuma semacam apartemen (nama kerennya dari rumah susun) kecil di sebuah kota kecil bernama Musota, yang ada di pinggiran Wakayama. Ada yang ga tau Musota? *pasti banyak* Nah di bawah ini aku coba lampirin gambar-gambar tentang Musota, kota kecil kesayangan yang mau tak mau sudah menjadi saksi bandelnya aku waktu kecil.
六十谷駅駅名板
Yeah, Musota !
六十谷駅
Stasiun keretanya, sering sekali kami bertiga dulu ke sana :)
Senju river 千手川
Sedikit view Musota, Wakayama. Nah banyak gunungnya yak, hahaha
Ini semacam jalur kereta di sekitar Wakayama. Nah enaknya tinggal di Musota adalah dia deket sama Osaka
  
Namanya juga kota kecil, ya pasti juga Hoikuen alias TK nya juga terbatas. Ga mungkin ikutan TK internasional atau semacam TK Pemerintah Indonesia yang cuma ada di Tokyo. Ya, itu karena dua sebab: sebab geografis yang ga mendukung dan juga keuangan orang tua, hehehe. Akhirnya aku dimasukkin ke TK biasa, yang konvensional, yang pake pengantar bahasa sana, dengan tidak ada teman-teman asing sama sekali. Bayangkan, anak umur 2 tahun 8 bulan masuk ke lingkungan yang bahkan bahasanya tidak Ia mengerti. Huee. Hari pertama sekolah langsung nangis *tapi tetep dipaksa sama gurunya masuk kelas dan mami-babeh ga boleh sama sekali nungguin*, terus baliknya kelaperan dan ga keluar suara gara-gara ga bisa makan dan ga bisa ngomong. Melasi cah... Itu berlangsung selama 2-3 bulan awal. Setelah itu? Wuih, jangan salah, entah gimana caranya aku malah jadi lebih jago ngomong bahasa sana dan lebih doyan makan makanan sana dibanding mami-babeh :p hehehehe (kalo doyan makanannya sampe sekarang :D)

Nah nama sekolah ku dulu adalah *kalo ga salah* Isshao Hoikueng alias Taman Kanak Kanak Isshao. Sekolah itu ada di atas perbukitan. Bener-bener di atas, soalnya aku agak inget waktu berangkat sekolah (pake mobil antar-jemput) selalu ngelewatin jalan miring kayak mau ke gunung gitu. Dan satu fakta yang bagus adalah dulu temen-temenku di sana beragam banget. Kenapa? karena dari anaknya tukang kayu sampe polisi intel negara ada, dari anak supir bus sampe masinis, anak pegawai sampe anak pedagang (based on mami-babeh's story). Model sekolahnya? bener-bener persis kayak yg ada di serial kartun Krayon Shinchan. Ada kelas bunga matahari (paling kecil) sampe bunga sakura (paling gedhe). Total ada 5 atau 6 kelas dengan tingkat yang berjenjang dari playgroup sampe TK besar kalo di sini. Alhamdulillahnya si disempatkan sekolah 3 tahun di sana. Dari playgroup sampe TK sedang.
Yang paling berkesan adalah Enchou Sensei alias Bapak Kepala Geng *eh Kepala Sekolahnya itu udah sepuh banget dan semangat bermain sama anak-anaknya masih tinggi. Enchou Sensei adalah guru laki-laki satu-satunya di sekolah (persis kan sama Shinchan?). Kenapa berkesan? Soalnya beliau ngasih kemeja putih berenda dan kaus kaki putih berenda waktu aku pamit mau balik lagi ke kampung halaman. Sehari-hari, kalo misalnya ada anak yang sakit atau dengan sebab yang lain harus pulang, Enchou Sensei lah yang nganter "turun". Dan kalo misal pak Supir yang biasa anter-jemput juga berhalangan, Enchou Sensei juga yang jemputin murid-muridnya langsung.
Ah sayang banget ga dapet gambar sekolahnya di google. Jadi ga bisa dipamerin deh, hehe *ups

Di umur 5,5 tahunan lebih (lupa tepatnya), kami balik lagi ke kampung halaman. Waktu itu, aku jauh jauh jauh lebih fasih berbahasa tempat perantauan daripada bahasa kampung halaman. Dan juga, jauh jauh jauh jauh jauh lebih doyan makan makanan sana daripada makanan sini (yang ini malah masih ngefek sampe sekarang untuk beberapa makanan, hehe). Sebenrnya si di umur yang 5,5 tahun udah bisa banget masuk SD. Tapi masa iya mau masuk SD tapi ngomong aja ga bisa? dan akhirnya aku masuk lagi ke TK. TK ini masih berdiri sampe sekarang di daerah Mankuyudan, Jogjakarta. Namanya TK Batik PPBI. Jangan nanya itu singkatan apa, soalnya sampe sekarang aja aku ga ngerti. Gambar sekolahnya yang ada di bawah itu adalah gambar aktual yang aku ambil saat beberapa minggu yang lalu sepedaan lewat sana.

Ini perasaan tulisan bagian depannya ga diganti sejak aku sekolah di sana deh :D
Yah, senada si waktu pertama kali masuk sekolah di Isshao Hoikuen, di TK PPBI ini juga aku memerlukan waktu adaptasi yang cukup sulit. Dalam satu caturwulan, pernah nilaiku C semua, hahaha. Itu pas awal-awal masuk kalo ga salah. Ga punya temen, ga bisa ngomong, dan ga bisa makan. Hahahaa masalahnya sama yak  sama yang sebelumnya.
Tapi Alhamdulillahnya adalah setelah lulus dari TK PPBI aku jadi bisa bahasa Indonesia walopun sampe sekarang ada beberapa kata-kata yang suka agak membingungkan dari mulutku, kayak kata-kata yang kebalik, pemaknaan yang kebalik, ngomongnya kecepetan, ga bisa ngomong "R" dengan sempurna padahal lidah normal. Harap maklum yak, mungkin gara-gara waktu perkembangan bicara aku ada di tempat yang "ga semestinya" hehehe.

Sekian dulu untuk nostalgia masa kecil saya yang penuh dengan usaha adaptasi. Hahaha

Kangen sama masa kecil :)