Tampilkan postingan dengan label experiences. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label experiences. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Maret 2012

Notalgia Masa Kanak-Kanak

Masa kanak-kanak, katanya si masa masa dimana seorang anak mulai mengenal dunianya, mulai diajarkan segala dasar dari dasarnya segala ilmu, yaitu budi pekerti. Serta mulai diasah psikomotornya dengan banyak diajarkan kerajinan tangan (yang saat itu aku adalah salah satu murid terpayah di TK ku), mulai tau baca-tulis (dulu juga lumayan lambat belajar baca tulis, duh), dan mulai mengenal sekolah dalam pemahaman yang simpel dan diharapkan menyenangkan. Sebenernya masih banyak hal-hal fundamental lain yang menarik juga kalo mau dibahas, tapi untuk kali ini aku justru mau mengulas sedikit tentang masa kecil saya yang agak *ehem* yah lumayan bisa dibilang bahagia, tapi juga tetep membutuhkan perjuangan penyesuaian diri yang lumayan rumit kayaknya. Buktinya, saya sekarang jadi agak rumit orangnya #eh

Jadi masa dulu ceritanya saya dan mami diboyong sama babeh saya ke tempat babeh mengadu ilmu pada Sang Guru. Umur waktu itu sekitar 2 tahun 8 bulan. Masih unyu unyu nya itu :D
Saat itu tanpa suatu alasan yang jelas aku minta sekolah. Pas umur segitu kalo di daerah kampung halaman biasanya si anak-anak belom pada disekolahin (jaman itu belom ada playgroup atau PAUD atau taman bermain atau apalah namanya). Ya, tanpa suatu alasan yang jelas pula mami-babeh langsung mengiyakan saja. Padahal waktu itu tempat tinggal yang babeh sewa itu cuma semacam apartemen (nama kerennya dari rumah susun) kecil di sebuah kota kecil bernama Musota, yang ada di pinggiran Wakayama. Ada yang ga tau Musota? *pasti banyak* Nah di bawah ini aku coba lampirin gambar-gambar tentang Musota, kota kecil kesayangan yang mau tak mau sudah menjadi saksi bandelnya aku waktu kecil.
六十谷駅駅名板
Yeah, Musota !
六十谷駅
Stasiun keretanya, sering sekali kami bertiga dulu ke sana :)
Senju river 千手川
Sedikit view Musota, Wakayama. Nah banyak gunungnya yak, hahaha
Ini semacam jalur kereta di sekitar Wakayama. Nah enaknya tinggal di Musota adalah dia deket sama Osaka
  
Namanya juga kota kecil, ya pasti juga Hoikuen alias TK nya juga terbatas. Ga mungkin ikutan TK internasional atau semacam TK Pemerintah Indonesia yang cuma ada di Tokyo. Ya, itu karena dua sebab: sebab geografis yang ga mendukung dan juga keuangan orang tua, hehehe. Akhirnya aku dimasukkin ke TK biasa, yang konvensional, yang pake pengantar bahasa sana, dengan tidak ada teman-teman asing sama sekali. Bayangkan, anak umur 2 tahun 8 bulan masuk ke lingkungan yang bahkan bahasanya tidak Ia mengerti. Huee. Hari pertama sekolah langsung nangis *tapi tetep dipaksa sama gurunya masuk kelas dan mami-babeh ga boleh sama sekali nungguin*, terus baliknya kelaperan dan ga keluar suara gara-gara ga bisa makan dan ga bisa ngomong. Melasi cah... Itu berlangsung selama 2-3 bulan awal. Setelah itu? Wuih, jangan salah, entah gimana caranya aku malah jadi lebih jago ngomong bahasa sana dan lebih doyan makan makanan sana dibanding mami-babeh :p hehehehe (kalo doyan makanannya sampe sekarang :D)

Nah nama sekolah ku dulu adalah *kalo ga salah* Isshao Hoikueng alias Taman Kanak Kanak Isshao. Sekolah itu ada di atas perbukitan. Bener-bener di atas, soalnya aku agak inget waktu berangkat sekolah (pake mobil antar-jemput) selalu ngelewatin jalan miring kayak mau ke gunung gitu. Dan satu fakta yang bagus adalah dulu temen-temenku di sana beragam banget. Kenapa? karena dari anaknya tukang kayu sampe polisi intel negara ada, dari anak supir bus sampe masinis, anak pegawai sampe anak pedagang (based on mami-babeh's story). Model sekolahnya? bener-bener persis kayak yg ada di serial kartun Krayon Shinchan. Ada kelas bunga matahari (paling kecil) sampe bunga sakura (paling gedhe). Total ada 5 atau 6 kelas dengan tingkat yang berjenjang dari playgroup sampe TK besar kalo di sini. Alhamdulillahnya si disempatkan sekolah 3 tahun di sana. Dari playgroup sampe TK sedang.
Yang paling berkesan adalah Enchou Sensei alias Bapak Kepala Geng *eh Kepala Sekolahnya itu udah sepuh banget dan semangat bermain sama anak-anaknya masih tinggi. Enchou Sensei adalah guru laki-laki satu-satunya di sekolah (persis kan sama Shinchan?). Kenapa berkesan? Soalnya beliau ngasih kemeja putih berenda dan kaus kaki putih berenda waktu aku pamit mau balik lagi ke kampung halaman. Sehari-hari, kalo misalnya ada anak yang sakit atau dengan sebab yang lain harus pulang, Enchou Sensei lah yang nganter "turun". Dan kalo misal pak Supir yang biasa anter-jemput juga berhalangan, Enchou Sensei juga yang jemputin murid-muridnya langsung.
Ah sayang banget ga dapet gambar sekolahnya di google. Jadi ga bisa dipamerin deh, hehe *ups

Di umur 5,5 tahunan lebih (lupa tepatnya), kami balik lagi ke kampung halaman. Waktu itu, aku jauh jauh jauh lebih fasih berbahasa tempat perantauan daripada bahasa kampung halaman. Dan juga, jauh jauh jauh jauh jauh lebih doyan makan makanan sana daripada makanan sini (yang ini malah masih ngefek sampe sekarang untuk beberapa makanan, hehe). Sebenrnya si di umur yang 5,5 tahun udah bisa banget masuk SD. Tapi masa iya mau masuk SD tapi ngomong aja ga bisa? dan akhirnya aku masuk lagi ke TK. TK ini masih berdiri sampe sekarang di daerah Mankuyudan, Jogjakarta. Namanya TK Batik PPBI. Jangan nanya itu singkatan apa, soalnya sampe sekarang aja aku ga ngerti. Gambar sekolahnya yang ada di bawah itu adalah gambar aktual yang aku ambil saat beberapa minggu yang lalu sepedaan lewat sana.

Ini perasaan tulisan bagian depannya ga diganti sejak aku sekolah di sana deh :D
Yah, senada si waktu pertama kali masuk sekolah di Isshao Hoikuen, di TK PPBI ini juga aku memerlukan waktu adaptasi yang cukup sulit. Dalam satu caturwulan, pernah nilaiku C semua, hahaha. Itu pas awal-awal masuk kalo ga salah. Ga punya temen, ga bisa ngomong, dan ga bisa makan. Hahahaa masalahnya sama yak  sama yang sebelumnya.
Tapi Alhamdulillahnya adalah setelah lulus dari TK PPBI aku jadi bisa bahasa Indonesia walopun sampe sekarang ada beberapa kata-kata yang suka agak membingungkan dari mulutku, kayak kata-kata yang kebalik, pemaknaan yang kebalik, ngomongnya kecepetan, ga bisa ngomong "R" dengan sempurna padahal lidah normal. Harap maklum yak, mungkin gara-gara waktu perkembangan bicara aku ada di tempat yang "ga semestinya" hehehe.

Sekian dulu untuk nostalgia masa kecil saya yang penuh dengan usaha adaptasi. Hahaha

Kangen sama masa kecil :)

Rabu, 15 Februari 2012

Di Antara Dua Tembok




Astaghfirullah haladzim...

Hanya itu yang bisa aku ucap dan sebut, demi sekedar menghapus rasa bersalah yang kian menumpuk. Perasaan yang sebenarnya aku tak tahu mengapa harus kudapat.


Hari itu, yah hari itu. Dimana raut wajahmu yang ayu berubah menjadi sayu seketika saat aku ucapkan beberapa kata -kata yang sudah sepantasnya aku ucapkan. Aku tidak mengatai, tidak memaki, apalagi menghujat. Sudah kupastikan beberapa kali, sudah kuulangi dalam pikiranku sendiri, bahwa memang itu seharusnya bukan suatu hal yang dapat menyakitimu. Aku coba untuk mengingat-ingat kata-kataku di hari itu

"Oiya, jadinya besok kamu bisa ikut ***? (suatu kegiatan, disamarkan)" Tanyaku
"Nggak bisa mbak, aku ada ***** (kegiatan lain, yang berurusan dengan pribadinya). Aku juga udah bilang sama mbak ** (nama temanku, yang sekarang dia mungkin sedang merasakan hal yang sama)."
Seperti sihir, rautmu berubah saat kamu memulai merangkai kalimat keduamu itu. Halus, indah, namun menyakitkan. Sungguh.

Aku hanya ingin melaksanakan tugasku, hanya sebuah amanah sederhana dari teman seperjuangan, yang hanya ingin dirimu tetap bersama kami. Ah, tapi aku sudah merasa gagal menjalankan amanah itu. Gagal merangkulmu kembali, bahkan sekarang aku kehilanganmu, seutuhnya.

Di dalam otakku masih terbumbung optimisme bahwa kau akan mengerti bagaimana menghadapi ini semua, optimis bahwa kau akan kembali bersama kami, dengan seutuhnya dirimu, semangatmu yang membumbung tinggi dan juga harapan-harapan yang kau coba untuk rangkai dalam kenyataan.

Tapi permasalahannya adalah, aku tidak hanya memiliki seonggok nervus yang terbuntal menjadi satu dan ditempatkan di dalam kepalaku ini, aku masih punya seonggok daging yang lain: hati. Hati akan memiliki banyak, banyak sekali ramuan yang disebut dengan perasaan. Perasaan yang bisa dicampuradukkan sedemikian sehingga aku pun sudah muak merasakannya. Ya, sejujurnya beginilah keadaanku terhadapmu. Aku pun tidak bisa berkata-kata apapun lagi, tak tahu harus bersikap seperti apa lagi. Ya, aku lelah. Namun aku juga tidak mau perjuangan kami sia-sia saja karena hal-hal ini.

Terlalu berlebihan? Ya mungkin siapa saja boleh berpikir kalo aku terlalu berlebihan dalam menghadapi ini. Tapi, sejujurnya aku telah mencoba sekuatku untuk bersikap seolah biasa, namun suatu sms yang dikirimkan olehmu membuatku berpikir sampai sedalam ini. Sebegitunya kah kau sekarang?

Terasa terhimpit dua tembok. Dari arah kanan, ada sebuah tembok yang kuat, tebal, dan kokoh. Itu adalah tembok untuk teman-teman sepejuangan yang terus menekanku dan menyalahkanku mengapa aku bisa kehilangan orang sepertimu, yang menurut mereka dapat dengan sangat baik meneruskan perjuangan hidup ini. Tekanan tembok sebelah kanan itu ditambah dengan beberapa tusukan yang tepat mendarat di sasaran yang tepat. Ya, aku tak berdaya, dan teman-teman telah dengan mudahnya mempersalahkan aku untuk hal ini. Aku bukan tipe pemberontak untuk hal yang seperti ini, aku memilih berdamai dengan keadaan, mencoba untuk satu per satu menghilangkan luka-luka tusukan yang datang dan masih membiarkan tekanan dari tembok kanan yang tidak dapat aku lawan sendirian. Jujur, aku butuh bantuan.

Dari arah yang lain, ada suatu tembok tipis, entah aku tak tahu apa itu tembok atau hanyalah tripleks -saking tipisnya- yang tercat indah warna-warni di sisi yang menghadap ke luar, dan warna hitam kelam di sisi yang menghadap padaku, menghimpitku. Setiap orang yang melihatku terhimpit oleh tembok itu berpikir betapa menyenangkannya tembok itu: tipis, indah, tercat warna-warni. Tapi sangat jauh berbeda dengan yang aku hadapi: aku merasa mengadapi tembok paling kelam, yang sangat rapuh, bahkan aku tak tega untuk melawannya, sehingga tembok itu sangat leluasa menghimpitku. Ya, mungkin kau sudah bisa menebak, itu adalah tembokmu.

Sakit rasanya menahan ini semua, ingin sesekali memberontak, banyak teman yang menyarankan untuk memilih salah satunya, sehingga bisa bersama mendorong tembok lainnya, dan aku bisa terbebas dari himpitan ini.
Mereka, biasanya, memilih mengikuti arah tembok yang lebih kuat. Realistis memang, karena tembokmu begitu rapuh, sangat, sangat mudah untuk dihancurkan olehku yang pastinya dibantu oleh kekuatan tembok tebal teman-teman.

Tapi aku tak tega, em... bukan, maksudnya tak mau, atau... tak bisa melakukan itu. Aku ingin kau bisa sadar dan bersama-sama kita ikuti kekuatan tembok tebal teman-teman seperjuangan. Ya, aku akan menunggu dengan terus berusaha tidak melawanmu. Aku menunggu dan mencoba terus berusaha membuatmu beralih arah dan mendorong bersama.

Tembok


-tak ada gading yang tak retak-

Rabu, 26 Oktober 2011

Mau Terus Renang atau Tenggelem Bung?

"Kalo udah nyemplung, kita cuma ada dua pilihan: terus renang, ato malah diem aja terus tenggelem???"
Kata-kata itu aku dapetin dari temenku, saat kerjaan (proyekan anak BEM) departemen kami hampir stag di suatu titik, alias ga maju-maju.
Ya, waktu itu akhirnya diadain sharing, ceritanya semuanya harus jujur. Dan keluarlan kata-kata itu.

Agak shock juga si awalnya dikasi kata-kata itu. Tapi bener juga, intinya kalo udah berada dalam suatu keadaan ato udah telanjur ngerjain sesuatu, ketika hal itu bikin stress and even stagnant, you have to continue and finish it. Kata orang kulon si, show must go on gitu.

Analoginya bagus. Jadi kalo misalnya kita "nyemplung", alias nyebur ato masuk ke air, ya emang di sana kita cuma punya 2 pilihan: terus renang, ato diem aja dan akhirnya tenggelem.
Begitu pula kalo kita ngerjain sesuatu, dalam kasus ini lagi ngadain suatu acara misalnya, ya kan kita udah telanjur "nyemplung" jadi panitianya, mau bagaimanapun juga ya harus nge-renang-in semua jobdesk-jobdesk itu. Kalo kita diem aja, yang ada acara kita "tenggelem" ditelan waktu dan gak jadi, ato malah akhirnya kita yang ditenggelemin waktu karena udah ga produktif lagi.

Semua persoalan menurutku bisa dengan kata-kata ini.
Nice.

So, everyone, let's get start all your works, again
Be struggle :)
Thanks for all my friends who always help me to open my mind through their words.

Jumat, 21 Oktober 2011

Long Long Journey to Bantul, Ngayogyakarto Hadiningrat

Long Long Journey, and agak heroic dikit.

Oke, jadi ceritanya seluruh panitia bakal ngirim ke sekolah-sekolah, dan saya dan temen saya yang satu ni, bakal ke BANTUL :)

Dengan pertimbangan origin Sleman, buat ke Bantul itu ya bujubune jauhnyaa. Jadi perjalanan ini agak penuh intrik dan ke-heroic-an yang membara.

Jadi dimulai saat selesai kuliah jam 10 kurang, terus kami berdua nyiap-nyiapin yang mau disebar dulu (kita juga nyiapin buat yang temen-temen lain lho). Nah langsung deh dibagi ke koordinator masing2 buat nyebar. Tapi, ada dua koor yang belum ambil paketannya. Udah dijatahin masing2 tapi. Tapi anehnya, entah kenapa ada 2 bundel sisa. Udah dicek berkali-kali ga ada yang kurang, ya sudah, kami bawa juga tu 2 yang sisa.
Nah, yang bukan tugas kami dimasukkin ke tas tentenganku (aku bawa dua tas -_-) dan dititipin ke mas-mas fotokopian kampus.

Nah, akhirnya dengan semangat patriotisme membara dalam dada, kami berdua beranjak ke parkiran kampus. Dan sampai saat itu pun, kami masih aja ga ngerti tu lokasi tepatnya SMA-SMA tersebut berade. Tapi, tiba-tiba temen ane yang satu itu punya ide, "Tanya Pak Satpam aja, pasti tau". Oke, karena itu adalah ide yang cukup briliant, maka kami pun mendekati Pak Satpam, "Pak, Bantul tu mana ya?" eeeh malah bapaknya balik tanya "Lah, rumahmu kan deket Bantul to? (sambil nunjuk ke aku)" "Iya pak, tapi Bantul yang pusat kotanya aku ga ngerti". Lalu terjadilah percakapan yang cukup panjang tentang dimanakah pusat kota Bantul berada. Okelah, ngerti dikit-dikit dan akhirnya aku manggut manggut. Dalam pikiran, oooh cuma situ...

Dan kami memulai perjalanan kami.

Jalan...

Jalan dilalui...

Perempatan dan pertigaan lampu merah pun dilalui...

Eh Sleman dah lewat, masuk deh ke Kota Jogja (kota tempat ane, Gan! -walopun deket Bantul, ane masih masuk Kota Jogja lho :p)

Pas mau belokan ke arah Bantul (yang dikatain Pak Satpam tadi), kelewatan -_-, duh! Maap ya teman, sampeyan kudu puter balik dengan beban boncengan ane dibelakang. hehe

Yuhui, kita masuk ke jalan yang benar.... dan saat yang paling oke adalah ketika kita nemuin kata-kata di plang jalan: jalan bla bla bla, bla bla, BANTUL. BANTUL!!!! kita nyampe BANTUL!
Saat itu beneran kita mikir kalo we almost reach the center of Bantul.

But we totally wrong.

Hiks, kita masih di bagian superficial nya Bantul. Masih di daerah yang mepet Jogja. So, dengan bekal bensin yang lumayan full, kita pacu terus ke arah selatan, soalnya mikirnya kan Bantul di Selatan. hehe
Nah, sampai lah di ring road selatan. Beuh! Kemanaaaa, kemana, kemanaa. No idea, si temen cuma pernah ke Bantul, ke tempat eyang nya temen kosnya. Ane? Seingetku sih paling ke Bantul ke tempat sodara. Itupun cuma daerah superficial.
Beneran, saat itu saat kritis, hampir aja kita mau balik lah, dibagi aja lah, apapun. Mengingat juga si temen ada kuliah jam 1 (padahal itu udah jam 11an apa ya).
Akhirnya ane inget: GOOGLE MAPS. Lupa coba kalo ada satu aplikasi ampuh ini di hape. Dengan bantuan insting jalanan si temen dan si mbah google, kita akhirnya masuk ke yang namanya "Jalan Raya Bantul".

Setauku, jalan raya bantul itu bakalan membawa kita ke pusat kota Bantul, hore \(^O^)/
Tapi hiks, si mbah google mengindikasikan bahwasanya jalan tu puanjaaaang bangeeet (ini bukan aku yang lebay, tapi emang panjang banget). Sempet ciut juga si, tapi ya nanggung juga si, udah di sini. Dan, Lanjuuuut :)

Dan kami jalan terus...

Terus....

Dari yang awalnya jalan kecil...

Lama-lama jadi gedhe....

Terus...

Dan sempet berpikir (gile, jauh amat ni jalan!)...

Dan terus....

Sampai akhirnya kita tiba di jalan yang gedhean, yang bagusan, dan kami mulai nemu SMP, SD, SMK,...

Tapi mana SMA nyaa????

Eeeeeh malah nemunya pos polisi, Pos Polisi Resor Bantul
dan disana kami mendapatkan pencerahan dimanakah SMA-SMA itu berada..

Yang pertama, kami putuskan untuk ke SMA Negeri 1 Bantul :)
Masuknya agak ngendep-ngendep, suer, aneh banget rasanya masuk ke sekolah orang...
Di sana masih sempet ketemu sama Bapak TU sekolahnya, plus ketemu sama ketua OSIS nya...
:D
Ketua OSISnya baru dipilih lhoo, jadi ya semoga aja niat patriotisme pantang mundurnya masih tebel banget jadi bisa publikasiin ni acara ke temennya juga, ga cuma dari jalur formal: TU-guru-baru siswa

Oke, next kita ke SMA Muhammadiyah Bantul (disingkat MUHIBA)
Tapi.........gerbang depan ditutup rapat.
Oke, kami tidak menyerah. Pengalaman membuktikan bahwasanya hampir setiap SMA punya "jalan" lain di belakang. Dan kita nemu jalan belakang itu, tapi......
Tapi buntet juga, ga ada jalan.
Oke, we moved then...

Langsung aja kita ke SMA Negeri 2 Bantul
Di depan SMA itu, ada 2 Ibu-Ibu yang sepertinya guru berjalan. Nah, langsung aja kita tanya.
Niatnya mau nanyain prosedur publikasi dll, tapi eh ternyata dua Ibu itu bukan guru SMA 2, tapi beliau guru dari tempat lain, dan bagusnya lagi beliau adalah guru biologi (lomba yang kita tawarin itu biologi :)) Akhirnya 2 bundel sisa yang kita ga sengaja bawa itu, dikasi ke ibu berdua itu. Yehaaaaa, dalam hati, dapet bonusan 2 SMA :D
Back to SMA2 mission:
Untuk yang ini kita udah ga sempet lagi ketemu sama TU, udah tutup soalnya.
Oke, gapapa kita nitip sama ketua OSISnya (yang ternyata baru juga) buat publikasi ke temen-temen dan nitip ke TUnya juga...
hehehehe, 4 sekolah dari target 5 sekolah dapet...
Dan tiba-tiba si temen bilang, "Aduh, aku bolos kuliah jam 1 aja deh. Biar ini selesai aja..."
"Eh? yakin?"
"Yakin, wis, ayo, lanjuuut"

Next (dengan perut keroncongan) ke SMA 3 Bantul :D
Eaaaa, nyampe sana pas banget sholat jumat. Nengok ke TU (kami tau lho tempatnya, haha, itulah gunanya denah sekolah :p) udah dikunci rapat dengan baik nan sempurna. Okelah, saatnya ke jalur informal: hanya lewat ketua OSIS.
Dengan modal tanya ke salah satu siswi di sana, kami tau dua hal: ketua OSISnya lagi jumatan (pasti dia cowok) dan dia suka nongkrong di depan ruang OSIS (soalnya disuruh nunggu depan ruang OSIS).
"Ruang OSISnya itu mbak, di pojokan yang ada 2 orang lagi duduk di depan."
Siswi tersebut nunjukin ruang OSISnya ke kita. Karena cukup jauh, kita berdua yang sama-sama agak rabun ga bisa liat jelas, angguk angguk aja. Nah, sampai di koridor yang ditunjuk, ada 3 spot: sama-sama pojokan dan sama-sama ada 2 orang lagi duduk. Nah lo, yang mana. Ya karena kita dikaruniai sebuah alat yang canggih dalam sistem stomatognasi, yaitu mulut, maka kita tanya lagi dan Alhamdulillah ya, ketemu.
Tapi tetep aja, nunggu depan ruang OSIS ga enak. Bukan anak OSIS situ dan juga bukan tamu yang diundang. Tapi akhirnya nemu sebuah spot yang super duper bagus: KANTIN SEKOLAAAH!!!
Udah lama banget ga nemu kantin macam itu. Di kantin kampus, bentuknya ya standar kampus, model kafetaria, dengan harga yang buat kantongku agak mahal.
Di kantin itu kita pesen soto sama es jeruk, masing-masing. Sambil nunggu jumatan dan menghapus lelah sejenak, kami nikmati soto dan es jeruk itu. Enak lho, suer. Soto rumahan banget. Satu hal yang bikin kantin sekolah ini tambah oke, kita cuma ngabisin duit 7 ribu makan berdua :D:D:D
Oke, kembali ke urusan publikasi:
Singkat cerita, kita ketemu juga sama ketua OSISnya (yang baru juga, heran, emang sekolahan udah pada pemilihan ketua OSIS baru ya?). Seperti ketua-ketua OSIS sebelumnya, dia ramah, dan nerima publikasi kami dan janji untuk nerusin ke TU dsb. Makasi ya dek :)

Oke, target 5 udah kepenuhi. Tapi masih ada 2 bundel nih di tangan.

Lanjut ke daerah Pleret. Menurut ibu-ibu yang kami temui di fotokopian, daerah Pleret itu jauh dari tempat kami waktu itu. "Mbak sekarang ada di sisi seberangnya dari Pleret, daerah sini sisi Barat Bantul, nah Pleret itu sisi Timur Bantul".
Makasi lho bu.
Aduh, tambah jauh.
Tapi oke, sesuai petunjuk ibu-ibu tadi, kita ke arah Timur. To east to find Pleret.
Bener kata ibu tadi, jauh.
Finally kita udah nyampe daerah pleret. Tapi kita ga tau dimana SMA 1 Pleret berada.
Setelah bertanya-tanya ke orang. Kita menemukan SMA 1 Pleret :D Horray ! Jalan perjalanan ke SMA itu, kita ngelewatin suatu MAN.
Masuk ke SMA 1 Pleret, kita bertemu dengan Ibu, mungkin Ibu Guru, mungkin Ibu TU. Entahlah. Yang jelas Ibu itu baik dan menerima publikasinya dengan cukup baik :)
Nah karena di tangan kami masih ada 1 bendel, kita tanya ke Ibunya tadi, "Bu, kalo SMA 2 Pleret dimana ya?" kenapa kita tanya begitu, soalnya mikirnya kalo dikasi angka '1' pasti ada yang '2'.
"Di Pleret cuma ada 1 SMA negeri mbak".
Eaaaaaaaa, gubrak. Ya udah lah yaa.

Dengan nyisa satu bendel ini, ga enak juga kalo dibawa balik. Nah kita balik lagi ke MAN yang kita lewatin tadi (walopun ga sesuai rencana). Kita ketemu siswa dan juga ada guru piketnya. Dan mereka semua cewek! Ga ada cowoknya sama sekali. Hoaaa. Anyway, yang penting publikasi: diterima.

Singkat cerita, kita ke kampus, tapi mampir dulu beli es Bang Joe di tamsis. Kehausan. Dan waktu itu jam 2 siang: jadi kita keliling selama 3 jam dalam keadaan Jogja secara keseluruhan yang panas ngenthang ngenthang.
Si temen, mag nya kambuh. Mungkin kecapean kali ya, soalnya dia yang bawa terus tadi. Aku kejam ya? Mungkin, tapi mungkin dia ngeri kalo aku yang bawa motor. Hehe.
Oke, so, we changed position: saya yang di depan.
Berhubung itu jalan setiap hari kalo mau ngampus, ya alhamdulillah lancar aja perjalanannya.

Nyampe kampus:
Muka kucel, berminyak, badan bau asep. Ga karuan deh. Jelek banget.

Terus si temen nanya ke temen sekelasnya: "Tadi gimana kuliah jam 1 nya?"
"Heh? ga ada kok, kosong..."
Huaaaaaaa. Seneng banget, untung aja tadi ga buru-buru balik kampus dan ternyata kosong. Kan males banget tu ya. Alhamdulillah lah.

Oke, so, this is the end of my journey to Bantul.
Exciting but tiring. But it was really fun and crazy.

Life is never flat yeah?
So, just follow the pattern, don't against it.

Cheeers!

Kamis, 20 Oktober 2011

Talk more, do more

Orang yang bekerja dengan tangannya saja, akan dikenang suatu saat nanti sebagai seorang yang 'ternyata' telah melakukan banyak hal.

Orang yang banyak berbicara dan banyak bekerja dengan tangannya, akan dikenang kebaikan ucapannya dalam golongannya dan semua kerja keras yang ia telah lakukan.

Orang yang hanya banyak berbicara, percaya atau tidak, tidak akan sama sekali berkontribusi dalam hal apapun, bahkan hanya akan menambah beban pekerjaan orang lain dengan omongannya.



Percayalah, bukan dengan omongan yang mengomentari banyak hal lah kita bisa maju.
Jangan sekali-kali menjelek-jelekkan kinerja orang yang bekerja dengan tangannya dengan 'omongan' kita Karena, sehina-hinanya pekerjaan yang ia lakukan, masih hina orang yang hanya berkomentar and do nothing.

So, jangan sekali-kali berkomentar ya kalo ga bisa ngerjain...
Jangan suka gampang nyeplos...

Sekian.