"Pa, aku berani kaan tadi"
"Iya, berani.... hebat hebat..."
"Papa nggak berani ya?"
"Kok gitu? Papa berani laah..."
"Kalo papa berani, kok tadi papa nggak dicabut?"
"......."
Kamis, 11 Juli 2013
Jumat, 31 Mei 2013
Selasa, 21 Mei 2013
PERPUS
Sudah 10 menit di sini.
Saya ada di suatu tempat yang bernama perpus -perpustakaan, yah semua
mahasiswa dan siswa memang sering ke sana
dan "menghabiskan" waktu. Begitu pula denganku, dengan sebuah
perangkat komputer jinjing –laptop, berusaha menuliskan kata demi kata menjadi
serangkaian kalimat yang ilmiah. Jujur saja, hal ini susah dilakukan karena
bukan hanya kalimat itu harus ilmiah, tapi juga beban yang terus menerus ada di
pundak ini semakin berat. Ah jadi ingin main tebak-tebakan: tulisan apa yang
harus ilmiah dan memberikan beban tersendiri pada penulisnya? ada yang tahu?
hahaha, itulah SKRIPSI.
Sekarang sudah sekitar 15 menit.
Langit yang tadinya mendung, akhirnya tak kuasa meneteskan air hujannya
membasahi bumi, membasahi kampus kami, membasahi bagian luar dari perpustakaan
ini. Ah cuaca yang begini membuat suasana perpus yang dilengkapi dengan AC ini
menjadi semakin sejuk dan ke arah dingin. Dinginnya hawa di dalam
perpus dipadu dengan suara rintikan air hujan ini membuat sensor mengantuk di
otak ini menyala. Haha, singkatnya, saya mengantuk. Entah kenapa sensasi
hujan dan dingin ini selalu berhasil membuat kantuk pada banyak orang.. Ah
hujan, hujan ini menghalangi cerahnya mentari di siang hari. Sebagai informasi
sekarang sedang pukul 13.02 WIO (Waktu Indonesia Osa), tidak boleh ada yang
protes, ini waktu yang ada di laptop saya dan
terserah saya mau lebih atau kurang satu, dua, tiga, lima, sepuluh, bahkan lima
belas menit dari jam lain –kecuali jam dosen pembimbing, asal tau saja, telat
dari dosen itu taruhannya simpel saja: SKRIPSI.
Sudah 30 menit.
Cukup terasa 30 menit ini lumayan lama, koneksi internet yang tidak
kunjung tersambung dengan lapto membuat waktu ini terasa lama: tidak bisa
download jurnal, buka email, buka facebook, main pottermore dan aktivitas penuh
koneksi lainnya. Huft, seandainya saja bisa langsung tersambung....ah jangan,
yang ada aku lupa lagi dengan beberapa to do list untuk hari ini karena teralalu asyik dengan
perangkat paling canggih yang ada di rumahku ini (jangan protes, laptop memang
yang tercanggih -saya tidak mengenal tablet dan smart TV di rumah).
Ah sudahi saja 30 menit aneh ini, saatnya bergegas dan meninggalkan
perpustakaan dan mulai dengan kehidupan nyata di luar sana...
Kehidupan nyata itu sungguh sesak, sesak
dengan pikiran-pikiran manusia yang saling berdebat dan bersaing, sesak dengan
kenyataan yang tidak semulus harapan, dan sesak oleh cinta yang tak kuasa
memuntahkan tinta pahitnya.
Kamis, 16 Mei 2013
Lihatlah bahwa bintang itu bersinar pada waktunya
Lihatlah bahwa bintang itu bersinar pada waktunya.
Bahwa cahayanya membawa keindahan malam pada ruang angan manusia.
Bintang itu tidak sendiri untuk jadi indah, perlu kegelapan malam dan berjuta bintang lain di langit.
Itu lah yang membuat sulit memahami akan indahnya bintang terselip di antara gelapnya malam,
bersinar namun tampak malu-malu, mengapa cahayanya tidak sekuat matahari?
Pada pundak malam bintang hanya tersenyum, "aku memang bukan matahari, yang selalu menyinari cerahnya pagi dan siang hari. aku bintang dengan cahayaku, bersama-sama dengan bintang lain aku membuat indahnya malam gelap."
Waktunya terlalu singkat untuk mehami bintang di malam ini... bercahayalah bintang, jangan paksakan dirimu untuk bersinar...
Bahwa cahayanya membawa keindahan malam pada ruang angan manusia.
Bintang itu tidak sendiri untuk jadi indah, perlu kegelapan malam dan berjuta bintang lain di langit.
Itu lah yang membuat sulit memahami akan indahnya bintang terselip di antara gelapnya malam,
bersinar namun tampak malu-malu, mengapa cahayanya tidak sekuat matahari?
Pada pundak malam bintang hanya tersenyum, "aku memang bukan matahari, yang selalu menyinari cerahnya pagi dan siang hari. aku bintang dengan cahayaku, bersama-sama dengan bintang lain aku membuat indahnya malam gelap."
Waktunya terlalu singkat untuk mehami bintang di malam ini... bercahayalah bintang, jangan paksakan dirimu untuk bersinar...
Jumat, 05 April 2013
Education vs Creativiy
Sekilas, tadi sempet ngeliat video tentang kreativitas.
Creativity vs. Education
Nah, menurut ahli yang berbicara itu, kalo sebenarnya sekolah (education) dengan sistemnya yg sedemikian, bisa menghambat kreativitas seorang anak. Masalahnya adalah, Sang Pembicara berasal dari Inggris, dimana mungkin saja sistem pendidikannya jauuuh lebih baik dari Indonesia -terlebih jika dilihat dari umur negara dan "seattle"nya negara itu dibanding negara kita.
Yang bisa saya ambil di sini adalah, jika memang negara Inggris, masih saja mempertanyakan sistem pendidikan mereka, maka bagaimana dengan Indonesia? Sejenak setelah saya dengar bagian awalnya saja saya langsung sedikit pesimis dengan sistem pendidikan di negara kita. Lha yang wong Inggris saja masih protes dengan sistem pendidikan mereka je, hanjuk kita gimana?
Saya bukan tidak percaya dengan ahli pendidikan kita atau lebih memuja sistem pendidikan luar negeri -saya adalah hasil didikan full di Indonesia dan saya hanya bersekolah swasta saat SD, sisanya, SMP dan SMA saya bersekolah di sekolah negeri- saya bahkan belum jelas tau bagaimana sistem pendidikan di luar sana. Sebagai orang awam, saya hanya bisa katakan bahwa saya justru bersyukur bahwa sebenarnya perbaikan kurikulim di Indonesia yang cukup sering terjadi -hampir 5 tahun sekali- tersebut banyak tujuan baiknya. Dulu, sebagai seorang siswa saya sangat kesal kenapa harus gonta-ganti kurikulum. Jawabannya baru bisa saya pahami sekarang, saat saya duduk di tahun keempat strata sarjana: Ini untuk perbaikan sistem, agar siswa bisa terasa kreativitasnya, bukan hanya dicekoki saja dengan pelajaran-pelajaran yang ada, namun bisa menjadi lebih kreatif dengan "mencari jawabannya" sendiri. Nah, masalahnya memang, apakah anak SD kelas 1 sudah bisa diajak seperti itu? Entahlah, biarlah mereka yang lebih tahu menjawab pertanyaan itu.
Nah, kembali pada education vs. creativity , saya sih sebenarnya belum bisa menentukan apakah saya cukup setuju atau tidak setuju dengan pernyataan itu....
Aduh berat nih ngomong soal sistem dan segala hal tentang nyaa...
Tapi, apakah kita terus menentang dan tiak mengikuti sistemnya? ya nggak mungkin. Yasudahlah... Hahaha
Creativity vs. Education
Nah, menurut ahli yang berbicara itu, kalo sebenarnya sekolah (education) dengan sistemnya yg sedemikian, bisa menghambat kreativitas seorang anak. Masalahnya adalah, Sang Pembicara berasal dari Inggris, dimana mungkin saja sistem pendidikannya jauuuh lebih baik dari Indonesia -terlebih jika dilihat dari umur negara dan "seattle"nya negara itu dibanding negara kita.
Yang bisa saya ambil di sini adalah, jika memang negara Inggris, masih saja mempertanyakan sistem pendidikan mereka, maka bagaimana dengan Indonesia? Sejenak setelah saya dengar bagian awalnya saja saya langsung sedikit pesimis dengan sistem pendidikan di negara kita. Lha yang wong Inggris saja masih protes dengan sistem pendidikan mereka je, hanjuk kita gimana?
Saya bukan tidak percaya dengan ahli pendidikan kita atau lebih memuja sistem pendidikan luar negeri -saya adalah hasil didikan full di Indonesia dan saya hanya bersekolah swasta saat SD, sisanya, SMP dan SMA saya bersekolah di sekolah negeri- saya bahkan belum jelas tau bagaimana sistem pendidikan di luar sana. Sebagai orang awam, saya hanya bisa katakan bahwa saya justru bersyukur bahwa sebenarnya perbaikan kurikulim di Indonesia yang cukup sering terjadi -hampir 5 tahun sekali- tersebut banyak tujuan baiknya. Dulu, sebagai seorang siswa saya sangat kesal kenapa harus gonta-ganti kurikulum. Jawabannya baru bisa saya pahami sekarang, saat saya duduk di tahun keempat strata sarjana: Ini untuk perbaikan sistem, agar siswa bisa terasa kreativitasnya, bukan hanya dicekoki saja dengan pelajaran-pelajaran yang ada, namun bisa menjadi lebih kreatif dengan "mencari jawabannya" sendiri. Nah, masalahnya memang, apakah anak SD kelas 1 sudah bisa diajak seperti itu? Entahlah, biarlah mereka yang lebih tahu menjawab pertanyaan itu.
Nah, kembali pada education vs. creativity , saya sih sebenarnya belum bisa menentukan apakah saya cukup setuju atau tidak setuju dengan pernyataan itu....
Aduh berat nih ngomong soal sistem dan segala hal tentang nyaa...
Tapi, apakah kita terus menentang dan tiak mengikuti sistemnya? ya nggak mungkin. Yasudahlah... Hahaha
Senin, 25 Maret 2013
Saya dan tempat Les-Lesan
Saya diminta "berkarya" saat les :D . Jadi ceritanya saya
-sekali lagi- les sendirian aja. Yah, bersama bule itu. Bukan, bukan Ali. Ali
sih lagi liburan, ke Lombok dan minggu depan baru pulang. Tadi les nya sama
guru baru yang namanya David -entah spelling nya bener apa nggak. Kata Ali sih,
David itu temennya, sama-sama dari South Africa. Umurnya sih kayaknya seumuran,
tapi lebih "hore" dikit sih dari Ali. Ali sih udah jadi Bapak, kalo
si David kayaknya sih masih hore horean aja orangnya. hahahaa. (FYI, Ali -yang
tanggal ultahnya sama kayak aku itu #hanjuk - umurnya baru 24 tahun tapi sudah
dikaruniai satu orang anak, baby boy, lucuu :3 )
Dan berikut ini saya lampirkan berkas cerita yang saya tulis. Maaf ya
kalo agak jayus dan ini bukan curhat loh, cuma tetiba kepikiran aja
gitu. Ini sudah dengan hasil koreksian si David. Asiknya David adalah, dia
nggak cuma ngeliat grammar nya saja, tapi dia juga bener-bener meng-enjoy-kan
diri dengan ceritanya. Kebayarlah ya paling nggak susah payahnya nyari ide
cerita wkwkwkwk. Kalo Ali, dia paling cuma senyum senyum simpul terus
menari-narikan bolpennya di atas tulisanku. Coreet sana coreeet sini, banyak
salah lalala. David, dia bahkan ga nyadar saya salah nulis "thought"
jadi "tought", "curious" jadi "courious", dan
beberapa salah spelling lainnya :D -tapi jelas dong udah saya ganti jadi yang
bener *evil lough* . Tapi grammarnya tetep sih, dikoreksiin. Yess laaah.
Selamat menikmatii... :D
Brain Wound
Once upon a time, there was a girl who lived in a small town, the girl's
name was Fafa. Fafa always curious about animal's brain. she was a very smart
girl so she got a chance to study in a university in the city.
In the university, Fafa met Alya, who was an univeristy's chief daughter
. Their friendship was so good -they almost spent every minute together. What
made their friendship longlasting was their interest in science and laboratory
work. They always loved to have mini-research and also loved research week in
the university -which was hated by other students.
They did not only loved to do research, but also crazy experiments. They
designed a mad experiment that they called "brain changing research".
They proposed that to their lecturer, but the lecturer told them that they were
crazy and mad. "Do you really want to do this? Oh My God, bless them. Go
to the Dean office after lauch!" They felt so desperate and miserable to
hear that.
"You have to go to councelling all day next week. You both. Don't
miss it!" The Dean told them. They obeyed the rules and came to the every
session of councelling. They didn't want to get in more trouble. Although, they still thought about their
experiment anyway.
"Do you still want to continue our eperiment?" Alya asked
Fafa. "Uhm, I do. But how? The entire college knows about our crazy
plan". "Don't worry, I've the research lab room key, I've stolen from
my Dad. But don't tell anyone please." With the key, they did their
research every night silently.
It took three months to finish designing the tools to increase the
intellegence of animals. They called it "Brain Wound". "Finally,
our dream comes true, Alya!" Fafa said, almost shouting. "Pssst, keep
silent! Yes, finally. We will try that, huh?". Alya responded. "Next
Sunday, we will go to the zoo and try this".
It was a sunny Sunday morning, many people went to the zoo. Fafa and
Alya decided to go to the turtle area. In that area, less people came because
they thought that it was boring. "Okay, this is the time. Shoot!"
Alya shouted and a second after Fafa shot a small turtle. BOOOOOMM!!! There was
a huge explossion. Because the area of the zoo was so big, no one could hear
that explossion clearly. But, they felt sad and miserable because the small
turtle was not moving anymore. They thought that it had died. They took the
turtle outside of the zoo and burried it in the university backyard.
Hundred years after the incident, on a sunny Sunday people close to
university were shocked because there was a turtle that could speak and thought
like humans.
Lalalaaa~ Sekian dulu mungkin yaaa..
Satu pesan saya, enjoy your RESEARCH, especially one that you must to,
not ought to. #pffft
Jumat, 22 Maret 2013
Yogyakarta, 21 Maret 2013, pukul 23.01
Yah, udah malem hampir tengah malem,
malem ini lumayan panjang dengan segala kekacauan yang aku buat sendiri,
selama berabad-abad rasanya aku masih bisa appropriately menaruh semua
pada tempatnya..
...yang baru aja aku tumpahin gitu aja.
Semacam rak buku yang kecil, dicoba buat diisi banyak buku:
Awalnya masih rapi, muat, semua buku tersusun pada tempatnya
masing-masing,
bahkan masih bisa diurutkan lewat abjad-abjadnya, dari A-Z, rapih.
Begitu tempat-yang-seharusnya-sebagai-row-buku sudah abis kepake sama
buku yang awal,
mulai di"selempit"in ke tempat sela sela antar baris rak buku
itu, sampai akhirnya kombinasi tempat itu habis.
Abis itu, mulai ada dua tumpukan di atas tumpukan buku, yang mulai dijejel-jejel..
Lalu mulai buku-buku yang kecil (yang awalnya sudah tertata rapih) di
keluarkan lalu diganti dengan buku yang besar, buku kecil itu mulai
diselempitin entah gimana caranya..
Nah, mulai menaruh buku di atas rak itu.. Emm, duh, mulai jelek ini bentuknya
rak buku kecilku..
Semakin lama jejelan dan tumpukan itu semakin menggila dan menggunung..
Tebak.
Suatu saat nanti rak buku itu akan rusak, roboh, atau tidak stabil yang
membuat buku-buku di dalamnya keluar semua, berantakan semua.
Pasti ada saatnya...
Ketika semua buku itu tidak muat.
Yes, beli rak baruu! *eh
Senin, 18 Maret 2013
FORUM "NGGEJE"
Nah, tulisan ini saya buat pada beberapa hari lalu, saat rapat mapres dan saya menggeje sendiri dengan lepi saya :D
Nah ini lah dia, saat-saat dimana saya nyampah di forum: forum mapres.
Keren kan ya namanya? Yapp, tapi entah kenapa ini saya seperti majas
paradoks didefinisikan, saya merasa tidak ada di forum padahal saya di forum
*lhah . Seperti kesunyian ditengah keramaian, semacam menjadi merasa terkucil
di kerumunan yg "asik" #tsaaah...
Ini ibarat medan magnet, selalu punya magnet di ujungnya; ini di meja
forum ada kecenderungan perbincangan ke arah salah satu ujung, dimana saya
berada di ujung lainnya. Hahaha, ga masalah si sebenernya, tapi kok ya nggak
guna gini ya.. Lalala, nggak apa-apa lah ya, toh juga tugasku bukan yang ini
kan ya. Ah sudahlah *mmmfh. Tapi tapi
kok gini banget ya, perumpamaan medan magnet dan kutub magnet kok nyata banget.
Ternyata bener, bahwa setiap orang yang "menarik" itu menarik
orang-orang lain di sekitarnya untuk mendengarkan.
Aduuuh, semakin ngelantur saya, nah mereka juga semakin jauh rapatnya.
Mmmm, lagi ngomongin rundown rupanya -si lari berjalannya lagi dirombak, dari
yang mulainya pagi dan sekarang diubah jadi mulai sore. Ah, sudahlah aku juga
mulai ga ngerti mereka mulai ngomongin apa aja. Entah kenapa kok ini aku payah
banget, hahahahahah. Oh, sekarang ini lagi ngomongin soal MC ya, hehehe. Ok,
selesai soal MC. Ternyata sekarang masuk ke LO, yaampun kita kehilangan
orang-orang, ini orangnya dikiiit banget ya :(
Hahahahaha, nggeje juga sih ini, ga seserius orang-orang pikirkan.
MasyaAllah ini kenapa kok rapat dari jam 4 sampai jam 6 kurang ini kayaknya
setengah dari perjalanannya ketawa terus LOL :D .
Yah, udah adzan. Selesai juga rapat kita, selesai juga saya ngelanturnya
di sini. Bubyeee :D
Senin, 11 Maret 2013
Apa Kabar?
Nah apa kabar?
Bisa dijawab dengan sejumlah pernyataan sederhana yang hanya terdiri atas satu-dua kata, misalnya: "Baik", "Biasa saja"; atau bisa juga dijawab dengan sejumlah cerita yang panjangnya bisa lebih dari tebelnya laporan Patologi Klinik -laporan yang amat sangat panjang dan saya eneg kalo lihat, bisa menghabiskan sekitar 30 sampai 40 lembar kertas folio bergaris.
Pertanyaan itu, cukup -atau sangat- standar diucapkan jika kita bertemu dengan seseorang. Hanya sekedar basa-basi atau memang kata-kata pengantar dalam obrolan yang panjang dan hangat untuk saling mencoba menapaki waktu-waktu kebelakang yang sudah lama tidak mereka lewati bersama....... *dan saya mulai melatur, ah sudahlah, toh saya juga sudah lama tidak merekam jejak-jejak saya bersama blog ini.
Pernyataan "apa kabar" sebenarnya memang suatu ungkapan yang standar sih, untuk memulai percakapan yang agak awkward karena terkesan terlalu sopan atau bagaimana. Eh, tunggu dulu, "apa kabar" bisa diganti dengan kata-kata bermakna sama, contohnya "eeeh, udah lama nggak ketemu, dimana sekarang?", "gimana kerjaan sekarang?" atau "wah, lagi sibuk apa nih?. Intinya sama : sama-sama menanyakan keadaan, dengan beberapa fokus yang berbeda.
Ngomong-ngomong soal kabar saya......emm, baik sih. Kenapa ada "sih"nya? Karena secara fisik saya baik-baik saja, mental insyaAllah juga, tapi secara kejiwaan saya tidak yakin. Toh memang hampir setiap orang memiliki "waham" kejiwaannya masing-masing kan? Nah, saya sedang punya waham, yaitu takut kalo denger orang nanya beberapa hal yang memang sensitif untuk mahasiswa semester akhir seperti saya ini,"Kapan lulus?" atau bahkan yang lebih menyakitkan lagi adalah "Kapan wisuda?".
Lalalaalaaa~ . Saya bingung jawabnya gimana, jadi bikin stress sih iya, tapi ya mau gimana. Saya cuma bisa jawab, "ya, secepatnya mohon doanya ya" sambil senyum simpul dan muka yang di-manis-manis-in *padahal dalemnya kecuuut. Dan yang saya coba camkan ke otak saya adalah: 'Ah, mereka cuma basa-basi aja, mereka pasti ga punya topik pembicaraan lagi deh, udaah jawab aja se-basa-basi-nya juga'. Huft. Tapi ya tetep aja, bingung ngebedain mana yang emang bener-bener tanya, basa-basi, atau bahkan nyindir.
Nah, apa kabar? :)
Bisa dijawab dengan sejumlah pernyataan sederhana yang hanya terdiri atas satu-dua kata, misalnya: "Baik", "Biasa saja"; atau bisa juga dijawab dengan sejumlah cerita yang panjangnya bisa lebih dari tebelnya laporan Patologi Klinik -laporan yang amat sangat panjang dan saya eneg kalo lihat, bisa menghabiskan sekitar 30 sampai 40 lembar kertas folio bergaris.
Pertanyaan itu, cukup -atau sangat- standar diucapkan jika kita bertemu dengan seseorang. Hanya sekedar basa-basi atau memang kata-kata pengantar dalam obrolan yang panjang dan hangat untuk saling mencoba menapaki waktu-waktu kebelakang yang sudah lama tidak mereka lewati bersama....... *dan saya mulai melatur, ah sudahlah, toh saya juga sudah lama tidak merekam jejak-jejak saya bersama blog ini.
Pernyataan "apa kabar" sebenarnya memang suatu ungkapan yang standar sih, untuk memulai percakapan yang agak awkward karena terkesan terlalu sopan atau bagaimana. Eh, tunggu dulu, "apa kabar" bisa diganti dengan kata-kata bermakna sama, contohnya "eeeh, udah lama nggak ketemu, dimana sekarang?", "gimana kerjaan sekarang?" atau "wah, lagi sibuk apa nih?. Intinya sama : sama-sama menanyakan keadaan, dengan beberapa fokus yang berbeda.
Ngomong-ngomong soal kabar saya......emm, baik sih. Kenapa ada "sih"nya? Karena secara fisik saya baik-baik saja, mental insyaAllah juga, tapi secara kejiwaan saya tidak yakin. Toh memang hampir setiap orang memiliki "waham" kejiwaannya masing-masing kan? Nah, saya sedang punya waham, yaitu takut kalo denger orang nanya beberapa hal yang memang sensitif untuk mahasiswa semester akhir seperti saya ini,"Kapan lulus?" atau bahkan yang lebih menyakitkan lagi adalah "Kapan wisuda?".
Lalalaalaaa~ . Saya bingung jawabnya gimana, jadi bikin stress sih iya, tapi ya mau gimana. Saya cuma bisa jawab, "ya, secepatnya mohon doanya ya" sambil senyum simpul dan muka yang di-manis-manis-in *padahal dalemnya kecuuut. Dan yang saya coba camkan ke otak saya adalah: 'Ah, mereka cuma basa-basi aja, mereka pasti ga punya topik pembicaraan lagi deh, udaah jawab aja se-basa-basi-nya juga'. Huft. Tapi ya tetep aja, bingung ngebedain mana yang emang bener-bener tanya, basa-basi, atau bahkan nyindir.
Nah, apa kabar? :)
Senin, 12 November 2012
Lagu-Laguan
Ga sengaja, waktu nonton tivi waktu ga ada acara yang terlalu bagus, dan kesasar di channel tivi kabel, dan kebetulan lagi muter lagu "Kesepian Kita" -nya Pass Band ft. Tere. Wuiss kerennyaa, adem deh rasanya. Cukup sering si kayaknya lagu ini diputer di beberapa acara atau sengaja dinyanyikan lagi sama musisi jaman sekarang.
Di tahun 2012 ini, Tere udah duduk di kursi DPR sedangkan personel Pass Band nya entah ada dimana. Ya, semoga di waktu-waktu ini musisi kita semakin "insaf" dan menemukan jalannya dalam menciptakan dan membawakan lagu yang enak dan adem kayak lagu-lagu jaman dulu. Amin. :)
Kamis, 02 Agustus 2012
Hentakan Ini Terlampau Hebat
Hari ini hentakan ini tiba-tiba terlampau bertubi tubi datang dan menghantam. Sebenarnya keadaan memang sudah agak kacau dari awalnya, kacau balau dan menekan. Tekanan itu sudah sampai antiklimaksnya saat ternyata semua hantaman-hantaman yang entah dari mana asalnya itu menekan kembali.
Bukan sekali dua kali ini aku mendapat tekanan dari "mini-hidup" ini. Agak kacau dan membuat stress karena ada di tepian dua jurang yang ketika salah sedikit kaki ini berpijak, maka habislah sudah hidup ini. Tidak kupungkiri, memang ada beberapa unsur kekacauan ku yang kubuat di sini. Tapi aku sudah lepas tangan saat semua sudah menjadi terlampau sedemikian buruknya. Aku sudah lepas tangan, dan mereka belum. Justru mereka kini ada di barisan yang cukup aman. Yah, mungkin aku memang sudah terbaca bahwa aku bukan seorang "save-player" dan aku memang risk taker di hampir segala kemungkinan hidup. Tapi aku tidak sebodoh itu, namun aku hanya lelah.
Kelelahan ini benar benar menjangkit dan memuncak di hari ini. Di kala suatu hal terungkap dari semua yang sengaja ditutupi. Tabir itu tersingkap dan dengan indahnya menari-nari di memoriku, visiku, dan pikiranku di alam bawah sadar. Suatu hal lain itu pun bertubi-tubi datang ketika aku harus mengetahui fakta di balik seseorang yang berusaha aku support dan ternyata dia dengan indahnya bermuka dua dan menghakimi di balik punggung saat aku tidak ada, dan tertawa terbahak ketika semua kejelekanku terungkap dan dibicarakan. Kemudian di hari yang sama dia masih bisa tertawa senang denganku -yang entah aku tidak tahu apakah itu tulus atau tidak- bersamaku. Sesuatu yang menyakitkan dan serasa ditusuk dengan tombak berkarat.
Fakta lain yang harus kutelan pahit pahit adalah ketika orang yang mungkin selama ini telah berbuat baik padamu, ternyata mungkin telah menghakimimu di belakangmu dan inilah yang dinamakan muka dua. Mereka munafik, aku hanya bisa menjerit demikian di dalam hati ini. Munafik itu benar-benar menyakitkan dan mengesalkan. Rasanya kepala ini cukup berat untuk menampung semua hal yang terjadi di hari ini, ini sangat kompleks dan bertubi-tubi.
Oke, seharusnya mungkin aku cukup tampikkan hal hal tadi dan tidak usah memikirkannya dalam-dalam, namun entah mengapa, rasanya sudah banyak sekali yang tertahan dan terpendam di otak ini sebelum hantaman hari ini datang. Pedih rasanya menanggung hal-hal ini, ah aku mengeluh, dan selalu mengeluh yang demikian. Bukan karena aku kurang mensyukuri nikmat-Nya, namun aku terheran-heran, sekarang "mini-hidup" ini terkesan begitu nyata dan aku sekarang ada di keadaan dimana 30% orang benar-benar tidak menyukaiku dengan apapun yang telah kuperbuat, 30% orang netral -bisa suka maupun tidak-, serta 30% lagi adalah yang benar-benar temanku yang selalu mendukungku dan mengingatkan ketika aku salah. Tidak baiknya adalah, 30% yang selalu menghakimiku jelek adalah yang secara geografis cukup dekat dan secara pokitis cukup didengarkan dan sangat berpengaruh.
Ya, wallahualam. Ya Allah semoga aku didekatkan dengan hamba-hamba-Mu yang senantiasa bertaqwa dan bersabar. Semoga semua yang terjadi sekarang dapat menjadi sesuatu pembelajaran hidup yang tidak akan pernah kulupakan. Serta, tak lupa aku selalu berharap bahwa Romadhon kali ini akan mendapatkan pelajaran yang lebih baik daripada yang tahun lalu sehingga dapat membuatku menjadi seorang pribadi yang lebih baik lagi, Amin.
Sabtu, 19 Mei 2012
(tidak sempat memikirkan judul)
Liburan, berati meninggalkan
Meninggalkan aktifitas sehari-hari
Hari-hari liburan akan berbeda
Berbeda di kala bisa atau tidak dipahami
Pahami untuk suatu kesenjangan yang rumit
Rumit dalam pemaknaan
Pemaknaan yang bisa membuat salah
Salah satu dan lainnya sama sama berpendapat
Pendapat bisa menghasilkan selisih
Selisih sangat dekat dengan pertikaian,
atau selisih hanya akan berpengaruh pada rasa di dalam
atau selisih hanya akan menimbulkan percikan kesal
atau selisih akan menimbulkan sesal
dan selisih jugalah, yang akan dapat menghakimi.
Rabu, 16 Mei 2012
Minggu, 08 April 2012
Awan dan Pelangi
Perubahan itu baik, karena hidup itu dinamis.
Tapi, bagaimana jika perubahan itu justru mengarahkan kita kepada hal yang tidak lebih baik?
Apakah itu harus tetap terjadi? Entahlah.
Tidak ada seorang pun yang berhak menggenggam takdir, tidak pula aku, kamu, dia, siapapun.
Tetapi perubahan memang hanya suatu bagian dari takdir, yang akan tetap berubah.
Apakah apa yang kau simpan dulu, masih sama? setelah sekian lama perjalanan yang bahkan baru menapaki halaman rumah.
Apakah apa yang kau puja, kau harap, dan kau tumpu, masih tetap berada di tempatnya? setelah kau mengerti dan paham semua jalan yang akan ditempuh.
Apakah apa yang yang kuharapkan itu hanyalah suatu angan berbatas waktu? yang entah kapan akan terbentur kontras antara takdir dan waktu.
Perubahan ini mungkin cukup baik, namun aku tidak merasakan kebaikan ini,
Hal yang sampai padaku, menembus kulit dan seluruh ototku, adalah kekecewaan akan sikap yang berubah entah bagaimana alasan yang kau buat.
Salahkan aku, memiliki kekecewaan ini.
Salahkan aku, jika memang kau lebih nyaman dengan ini.
Salahkan aku, jika aku tidak bisa membuatmu tersenyum dalam hatimu.
Salahkan aku, jika justru menambah kekalutan pikiranmu.
Salahkan aku, jika engkau pikir inilah yang terbaik.
Salahkan aku, jika aku tidak sanggup mengayunkan tongkat sihirku, agar membuatmu jauh lebih bahagia.
Salahkan aku, jika tidak sanggup menambah warna pelangimu setelah mendungmu.
Tapi, semampuku, aku ingin mempersembahkan warna terindah yang kumiliki dari pelangiku, yang kini tertutup awan.
-sebuah tulisan tentang angan angan di atas awan, yang entah kapan aku bisa mencapainya-
Tapi, bagaimana jika perubahan itu justru mengarahkan kita kepada hal yang tidak lebih baik?
Apakah itu harus tetap terjadi? Entahlah.
Tidak ada seorang pun yang berhak menggenggam takdir, tidak pula aku, kamu, dia, siapapun.
Tetapi perubahan memang hanya suatu bagian dari takdir, yang akan tetap berubah.
Apakah apa yang kau simpan dulu, masih sama? setelah sekian lama perjalanan yang bahkan baru menapaki halaman rumah.
Apakah apa yang kau puja, kau harap, dan kau tumpu, masih tetap berada di tempatnya? setelah kau mengerti dan paham semua jalan yang akan ditempuh.
Apakah apa yang yang kuharapkan itu hanyalah suatu angan berbatas waktu? yang entah kapan akan terbentur kontras antara takdir dan waktu.
Perubahan ini mungkin cukup baik, namun aku tidak merasakan kebaikan ini,
Hal yang sampai padaku, menembus kulit dan seluruh ototku, adalah kekecewaan akan sikap yang berubah entah bagaimana alasan yang kau buat.
Salahkan aku, memiliki kekecewaan ini.
Salahkan aku, jika memang kau lebih nyaman dengan ini.
Salahkan aku, jika aku tidak bisa membuatmu tersenyum dalam hatimu.
Salahkan aku, jika justru menambah kekalutan pikiranmu.
Salahkan aku, jika engkau pikir inilah yang terbaik.
Salahkan aku, jika aku tidak sanggup mengayunkan tongkat sihirku, agar membuatmu jauh lebih bahagia.
Salahkan aku, jika tidak sanggup menambah warna pelangimu setelah mendungmu.
Tapi, semampuku, aku ingin mempersembahkan warna terindah yang kumiliki dari pelangiku, yang kini tertutup awan.
-sebuah tulisan tentang angan angan di atas awan, yang entah kapan aku bisa mencapainya-
Jumat, 06 April 2012
Reaksi
Entah apa yang kulihat akan selalu berkebalikan dengan apa yang "mereka lihat"
Ah entah, aku tak peduli
Aku juga tak peduli ketika tingkahmu -yang menurut mereka baik nan lucu- menyeruak ke permukaan dan membuat mereka memberikan hatinya padamu, yah mereka.
Dan aku juga tak peduli
Aku benar-benar dalam keadaan apatis, karena itu aku tidak peduli.
Anggap aku laki-laki sehingga kau bisa mengerti apa arti kata "tak peduli" dariku.
Karena aku benar-benar tak peduli, sekali lagi tak peduli.
Tapi di titik ini kau berubah, menjadi jauh lebih iritatif.
Padaku? iya, sadar atau tidak sadar, kau membuatku teriritasi.
Bahkan satelit pun akan lama bertahan dalam orbitnya,
Bahkan pohon pun masih berjuang bertahan dengan akarnya,
Bahkan mahasiswa pun bertahan demi masa depannya,
dan?
Orbit itu bisa berubah, namun tak selayaknya secepat itu.
Ketika reaksi adhesi berlangsung, tak sebijaknya dihentikan dan digantikan dengan proses adisi.
Kau tau kenapa bahan baru perlu waktu minimal 10 tahun untuk bisa dijadikan suatu penemuan baru?
Karena membutuhkan waktu, untuk meneliti in vitro, in vivo, dan human test.
Ketika suatu NaOH berusaha membuat netral larutan H3PO4, tidak selayaknya ia menetralkan HCl.
HCl pasti akan lebih mudah netralnya, lebih mudah untuk diikat hanya dengan 1 ion H
Aku tau H3PO4 akan membutuhkan ion H 3 kali lipat,
tapi kau tau? garam yang dihasilkan akan jauh lebih unik: Na3PO4.
Iya, Na3PO4, bukan hanya NaCl yang sering ibu-ibu pakai di dapur.
Logis bagimu? untuk dapatkan paten hanya dalam waktu kurang dari sebulan?
logis bagimu? untukmenjalankan penelitianmu sekaligus memproses paten untuk judul yang sama?
Entah bagaimana jalan pikiranmu.
-sekali lagi aku tak peduli-
Namun aku yakin, jawabannya adalah: tidak logis.
Bagaimana menjalankan hal yang tidak -atau kurang- logis?
Ah aku yakin kau punya logika
Untuk memainkan kata-katamu
Tanpa satu hal.
Yaitu perasaan.
Sekian.
Ah entah, aku tak peduli
Aku juga tak peduli ketika tingkahmu -yang menurut mereka baik nan lucu- menyeruak ke permukaan dan membuat mereka memberikan hatinya padamu, yah mereka.
Dan aku juga tak peduli
Aku benar-benar dalam keadaan apatis, karena itu aku tidak peduli.
Anggap aku laki-laki sehingga kau bisa mengerti apa arti kata "tak peduli" dariku.
Karena aku benar-benar tak peduli, sekali lagi tak peduli.
Tapi di titik ini kau berubah, menjadi jauh lebih iritatif.
Padaku? iya, sadar atau tidak sadar, kau membuatku teriritasi.
Bahkan satelit pun akan lama bertahan dalam orbitnya,
Bahkan pohon pun masih berjuang bertahan dengan akarnya,
Bahkan mahasiswa pun bertahan demi masa depannya,
dan?
Orbit itu bisa berubah, namun tak selayaknya secepat itu.
Ketika reaksi adhesi berlangsung, tak sebijaknya dihentikan dan digantikan dengan proses adisi.
Kau tau kenapa bahan baru perlu waktu minimal 10 tahun untuk bisa dijadikan suatu penemuan baru?
Karena membutuhkan waktu, untuk meneliti in vitro, in vivo, dan human test.
Ketika suatu NaOH berusaha membuat netral larutan H3PO4, tidak selayaknya ia menetralkan HCl.
HCl pasti akan lebih mudah netralnya, lebih mudah untuk diikat hanya dengan 1 ion H
Aku tau H3PO4 akan membutuhkan ion H 3 kali lipat,
tapi kau tau? garam yang dihasilkan akan jauh lebih unik: Na3PO4.
Iya, Na3PO4, bukan hanya NaCl yang sering ibu-ibu pakai di dapur.
Logis bagimu? untuk dapatkan paten hanya dalam waktu kurang dari sebulan?
logis bagimu? untukmenjalankan penelitianmu sekaligus memproses paten untuk judul yang sama?
Entah bagaimana jalan pikiranmu.
-sekali lagi aku tak peduli-
Namun aku yakin, jawabannya adalah: tidak logis.
Bagaimana menjalankan hal yang tidak -atau kurang- logis?
Ah aku yakin kau punya logika
Untuk memainkan kata-katamu
Tanpa satu hal.
Yaitu perasaan.
Sekian.
Senin, 12 Maret 2012
Notalgia Masa Kanak-Kanak
Masa kanak-kanak, katanya si masa masa dimana seorang anak mulai mengenal dunianya, mulai diajarkan segala dasar dari dasarnya segala ilmu, yaitu budi pekerti. Serta mulai diasah psikomotornya dengan banyak diajarkan kerajinan tangan (yang saat itu aku adalah salah satu murid terpayah di TK ku), mulai tau baca-tulis (dulu juga lumayan lambat belajar baca tulis, duh), dan mulai mengenal sekolah dalam pemahaman yang simpel dan diharapkan menyenangkan. Sebenernya masih banyak hal-hal fundamental lain yang menarik juga kalo mau dibahas, tapi untuk kali ini aku justru mau mengulas sedikit tentang masa kecil saya yang agak *ehem* yah lumayan bisa dibilang bahagia, tapi juga tetep membutuhkan perjuangan penyesuaian diri yang lumayan rumit kayaknya. Buktinya, saya sekarang jadi agak rumit orangnya #eh
Namanya juga kota kecil, ya pasti juga Hoikuen alias TK nya juga terbatas. Ga mungkin ikutan TK internasional atau semacam TK Pemerintah Indonesia yang cuma ada di Tokyo. Ya, itu karena dua sebab: sebab geografis yang ga mendukung dan juga keuangan orang tua, hehehe. Akhirnya aku dimasukkin ke TK biasa, yang konvensional, yang pake pengantar bahasa sana, dengan tidak ada teman-teman asing sama sekali. Bayangkan, anak umur 2 tahun 8 bulan masuk ke lingkungan yang bahkan bahasanya tidak Ia mengerti. Huee. Hari pertama sekolah langsung nangis *tapi tetep dipaksa sama gurunya masuk kelas dan mami-babeh ga boleh sama sekali nungguin*, terus baliknya kelaperan dan ga keluar suara gara-gara ga bisa makan dan ga bisa ngomong. Melasi cah... Itu berlangsung selama 2-3 bulan awal. Setelah itu? Wuih, jangan salah, entah gimana caranya aku malah jadi lebih jago ngomong bahasa sana dan lebih doyan makan makanan sana dibanding mami-babeh :p hehehehe (kalo doyan makanannya sampe sekarang :D)
Yah, senada si waktu pertama kali masuk sekolah di Isshao Hoikuen, di TK PPBI ini juga aku memerlukan waktu adaptasi yang cukup sulit. Dalam satu caturwulan, pernah nilaiku C semua, hahaha. Itu pas awal-awal masuk kalo ga salah. Ga punya temen, ga bisa ngomong, dan ga bisa makan. Hahahaa masalahnya sama yak sama yang sebelumnya.
Jadi masa dulu ceritanya saya dan mami diboyong sama babeh saya ke tempat babeh mengadu ilmu pada Sang Guru. Umur waktu itu sekitar 2 tahun 8 bulan. Masih unyu unyu nya itu :D
Saat itu tanpa suatu alasan yang jelas aku minta sekolah. Pas umur segitu kalo di daerah kampung halaman biasanya si anak-anak belom pada disekolahin (jaman itu belom ada playgroup atau PAUD atau taman bermain atau apalah namanya). Ya, tanpa suatu alasan yang jelas pula mami-babeh langsung mengiyakan saja. Padahal waktu itu tempat tinggal yang babeh sewa itu cuma semacam apartemen (nama kerennya dari rumah susun) kecil di sebuah kota kecil bernama Musota, yang ada di pinggiran Wakayama. Ada yang ga tau Musota? *pasti banyak* Nah di bawah ini aku coba lampirin gambar-gambar tentang Musota, kota kecil kesayangan yang mau tak mau sudah menjadi saksi bandelnya aku waktu kecil.
| Yeah, Musota ! |
| Stasiun keretanya, sering sekali kami bertiga dulu ke sana :) |
| Sedikit view Musota, Wakayama. Nah banyak gunungnya yak, hahaha |
| Ini semacam jalur kereta di sekitar Wakayama. Nah enaknya tinggal di Musota adalah dia deket sama Osaka |
Namanya juga kota kecil, ya pasti juga Hoikuen alias TK nya juga terbatas. Ga mungkin ikutan TK internasional atau semacam TK Pemerintah Indonesia yang cuma ada di Tokyo. Ya, itu karena dua sebab: sebab geografis yang ga mendukung dan juga keuangan orang tua, hehehe. Akhirnya aku dimasukkin ke TK biasa, yang konvensional, yang pake pengantar bahasa sana, dengan tidak ada teman-teman asing sama sekali. Bayangkan, anak umur 2 tahun 8 bulan masuk ke lingkungan yang bahkan bahasanya tidak Ia mengerti. Huee. Hari pertama sekolah langsung nangis *tapi tetep dipaksa sama gurunya masuk kelas dan mami-babeh ga boleh sama sekali nungguin*, terus baliknya kelaperan dan ga keluar suara gara-gara ga bisa makan dan ga bisa ngomong. Melasi cah... Itu berlangsung selama 2-3 bulan awal. Setelah itu? Wuih, jangan salah, entah gimana caranya aku malah jadi lebih jago ngomong bahasa sana dan lebih doyan makan makanan sana dibanding mami-babeh :p hehehehe (kalo doyan makanannya sampe sekarang :D)
Nah nama sekolah ku dulu adalah *kalo ga salah* Isshao Hoikueng alias Taman Kanak Kanak Isshao. Sekolah itu ada di atas perbukitan. Bener-bener di atas, soalnya aku agak inget waktu berangkat sekolah (pake mobil antar-jemput) selalu ngelewatin jalan miring kayak mau ke gunung gitu. Dan satu fakta yang bagus adalah dulu temen-temenku di sana beragam banget. Kenapa? karena dari anaknya tukang kayu sampe polisi intel negara ada, dari anak supir bus sampe masinis, anak pegawai sampe anak pedagang (based on mami-babeh's story). Model sekolahnya? bener-bener persis kayak yg ada di serial kartun Krayon Shinchan. Ada kelas bunga matahari (paling kecil) sampe bunga sakura (paling gedhe). Total ada 5 atau 6 kelas dengan tingkat yang berjenjang dari playgroup sampe TK besar kalo di sini. Alhamdulillahnya si disempatkan sekolah 3 tahun di sana. Dari playgroup sampe TK sedang.
Yang paling berkesan adalah Enchou Sensei alias Bapak Kepala Geng *eh Kepala Sekolahnya itu udah sepuh banget dan semangat bermain sama anak-anaknya masih tinggi. Enchou Sensei adalah guru laki-laki satu-satunya di sekolah (persis kan sama Shinchan?). Kenapa berkesan? Soalnya beliau ngasih kemeja putih berenda dan kaus kaki putih berenda waktu aku pamit mau balik lagi ke kampung halaman. Sehari-hari, kalo misalnya ada anak yang sakit atau dengan sebab yang lain harus pulang, Enchou Sensei lah yang nganter "turun". Dan kalo misal pak Supir yang biasa anter-jemput juga berhalangan, Enchou Sensei juga yang jemputin murid-muridnya langsung.
Ah sayang banget ga dapet gambar sekolahnya di google. Jadi ga bisa dipamerin deh, hehe *ups
Di umur 5,5 tahunan lebih (lupa tepatnya), kami balik lagi ke kampung halaman. Waktu itu, aku jauh jauh jauh lebih fasih berbahasa tempat perantauan daripada bahasa kampung halaman. Dan juga, jauh jauh jauh jauh jauh lebih doyan makan makanan sana daripada makanan sini (yang ini malah masih ngefek sampe sekarang untuk beberapa makanan, hehe). Sebenrnya si di umur yang 5,5 tahun udah bisa banget masuk SD. Tapi masa iya mau masuk SD tapi ngomong aja ga bisa? dan akhirnya aku masuk lagi ke TK. TK ini masih berdiri sampe sekarang di daerah Mankuyudan, Jogjakarta. Namanya TK Batik PPBI. Jangan nanya itu singkatan apa, soalnya sampe sekarang aja aku ga ngerti. Gambar sekolahnya yang ada di bawah itu adalah gambar aktual yang aku ambil saat beberapa minggu yang lalu sepedaan lewat sana.
![]() |
| Ini perasaan tulisan bagian depannya ga diganti sejak aku sekolah di sana deh :D |
Tapi Alhamdulillahnya adalah setelah lulus dari TK PPBI aku jadi bisa bahasa Indonesia walopun sampe sekarang ada beberapa kata-kata yang suka agak membingungkan dari mulutku, kayak kata-kata yang kebalik, pemaknaan yang kebalik, ngomongnya kecepetan, ga bisa ngomong "R" dengan sempurna padahal lidah normal. Harap maklum yak, mungkin gara-gara waktu perkembangan bicara aku ada di tempat yang "ga semestinya" hehehe.
Sekian dulu untuk nostalgia masa kecil saya yang penuh dengan usaha adaptasi. Hahaha
Kangen sama masa kecil :)
Rabu, 15 Februari 2012
teman?
"teman", menurut wikipedia bahasa indonesia:
Oke, kembali ke pembahasan di atas, jika "teman" kita sendiri menarik diri.
Aku pribadi, akan tetap berusaha menjadi teman yang baik baginya. Mencoba meluangkan waktu untuk sekedar mendengarkan keluh kesahnya. Kalopun "teman" tidak mau berbagi saat itu, percayalah bahwa dia sudah dewasa dan tahu apa yang dia lakukan. Posisikan saja kita sebagai seseorang yang entah dibutuhkan atau tidak, akan membantu dan mencoba menemani mencari jalan keluar dari setiap permasalahan.
Ketika suatu persahabatan dirasa tidak seimbang, mungkin justru seperti itulah keadaan seimbangnya.
Berikan apapun yang terbaik, maka kau akan dapatkan yang terbaik pula
for all my friends: believe me, you're great, try to believe in yourself like I believe in this friendship :)
Persahabatan atau pertemanan adalah istilah yang menggambarkan perilaku kerja sama dan saling mendukung antara dua atau lebih entitas sosial. Artikel ini memusatkan perhatian pada pemahaman yang khas dalam hubungan antar pribadi. Dalam pengertian ini, istilah "persahabatan" menggambarkan suatu hubunganyang melibatkan pengetahuan, penghargaan dan afeksi. Sahabat akan menyambut kehadiran sesamanya dan menunjukkan kesetiaan satu sama lain, seringkali hingga pada altruisme. selera mereka biasanya serupa dan mungkin saling bertemu, dan mereka menikmati kegiatan-kegiatan yang mereka sukai. Mereka juga akan terlibat dalam perilaku yang saling menolong, seperti tukar-menukar nasihat dan saling menolong dalam kesulitan. Sahabat adalah orang yang memperlihatkan perilaku yang berbalasan dan reflektif. Namun bagi banyak orang, persahabatan seringkali tidak lebih daripada kepercayaan bahwa seseorang atau sesuatu tidak akan merugikan atau menyakiti mereka.Ketika mungkin salah satu menarik diri dari yang lain, apakah tetap bisa dikatakan sebagai teman? Ah, aku juga ga tau dan ga mau tau. Yang penting, memiliki teman adalah suatu kebutuhan, kebutuhan bagi setiap manusia yang hidup. Tanpa teman, kita tidak bisa berbagi, ya apalagi bagi manusia sepertiku yang ga punya sodara kandung. Pada siapa aku bakal berbagi jika tidak dengan teman??
Nilai yang terdapat dalam persahabatan seringkali apa yang dihasilkan ketika seorang sahabat memperlihatkan secara konsisten:
- kecenderungan untuk menginginkan apa yang terbaik bagi satu sama lain.
- kejujuran
, barangkali dalam keadaan-keadaan yang sulit bagi orang lain untuk mengucapkan kebenaran.
- saling pengertian.
Oke, kembali ke pembahasan di atas, jika "teman" kita sendiri menarik diri.
Aku pribadi, akan tetap berusaha menjadi teman yang baik baginya. Mencoba meluangkan waktu untuk sekedar mendengarkan keluh kesahnya. Kalopun "teman" tidak mau berbagi saat itu, percayalah bahwa dia sudah dewasa dan tahu apa yang dia lakukan. Posisikan saja kita sebagai seseorang yang entah dibutuhkan atau tidak, akan membantu dan mencoba menemani mencari jalan keluar dari setiap permasalahan.
Ketika suatu persahabatan dirasa tidak seimbang, mungkin justru seperti itulah keadaan seimbangnya.
![]() |
| Friendship is just simply as that :) |
Berikan apapun yang terbaik, maka kau akan dapatkan yang terbaik pula
for all my friends: believe me, you're great, try to believe in yourself like I believe in this friendship :)
Di Antara Dua Tembok
Astaghfirullah haladzim...
Hanya itu yang bisa aku ucap dan sebut, demi sekedar menghapus rasa bersalah yang kian menumpuk. Perasaan yang sebenarnya aku tak tahu mengapa harus kudapat.
![]() |
Hari itu, yah hari itu. Dimana raut wajahmu yang ayu berubah menjadi sayu seketika saat aku ucapkan beberapa kata -kata yang sudah sepantasnya aku ucapkan. Aku tidak mengatai, tidak memaki, apalagi menghujat. Sudah kupastikan beberapa kali, sudah kuulangi dalam pikiranku sendiri, bahwa memang itu seharusnya bukan suatu hal yang dapat menyakitimu. Aku coba untuk mengingat-ingat kata-kataku di hari itu
"Oiya, jadinya besok kamu bisa ikut ***? (suatu kegiatan, disamarkan)" Tanyaku
"Nggak bisa mbak, aku ada ***** (kegiatan lain, yang berurusan dengan pribadinya). Aku juga udah bilang sama mbak ** (nama temanku, yang sekarang dia mungkin sedang merasakan hal yang sama)."Seperti sihir, rautmu berubah saat kamu memulai merangkai kalimat keduamu itu. Halus, indah, namun menyakitkan. Sungguh.
Aku hanya ingin melaksanakan tugasku, hanya sebuah amanah sederhana dari teman seperjuangan, yang hanya ingin dirimu tetap bersama kami. Ah, tapi aku sudah merasa gagal menjalankan amanah itu. Gagal merangkulmu kembali, bahkan sekarang aku kehilanganmu, seutuhnya.
Di dalam otakku masih terbumbung optimisme bahwa kau akan mengerti bagaimana menghadapi ini semua, optimis bahwa kau akan kembali bersama kami, dengan seutuhnya dirimu, semangatmu yang membumbung tinggi dan juga harapan-harapan yang kau coba untuk rangkai dalam kenyataan.
Tapi permasalahannya adalah, aku tidak hanya memiliki seonggok nervus yang terbuntal menjadi satu dan ditempatkan di dalam kepalaku ini, aku masih punya seonggok daging yang lain: hati. Hati akan memiliki banyak, banyak sekali ramuan yang disebut dengan perasaan. Perasaan yang bisa dicampuradukkan sedemikian sehingga aku pun sudah muak merasakannya. Ya, sejujurnya beginilah keadaanku terhadapmu. Aku pun tidak bisa berkata-kata apapun lagi, tak tahu harus bersikap seperti apa lagi. Ya, aku lelah. Namun aku juga tidak mau perjuangan kami sia-sia saja karena hal-hal ini.
Terlalu berlebihan? Ya mungkin siapa saja boleh berpikir kalo aku terlalu berlebihan dalam menghadapi ini. Tapi, sejujurnya aku telah mencoba sekuatku untuk bersikap seolah biasa, namun suatu sms yang dikirimkan olehmu membuatku berpikir sampai sedalam ini. Sebegitunya kah kau sekarang?
Terasa terhimpit dua tembok. Dari arah kanan, ada sebuah tembok yang kuat, tebal, dan kokoh. Itu adalah tembok untuk teman-teman sepejuangan yang terus menekanku dan menyalahkanku mengapa aku bisa kehilangan orang sepertimu, yang menurut mereka dapat dengan sangat baik meneruskan perjuangan hidup ini. Tekanan tembok sebelah kanan itu ditambah dengan beberapa tusukan yang tepat mendarat di sasaran yang tepat. Ya, aku tak berdaya, dan teman-teman telah dengan mudahnya mempersalahkan aku untuk hal ini. Aku bukan tipe pemberontak untuk hal yang seperti ini, aku memilih berdamai dengan keadaan, mencoba untuk satu per satu menghilangkan luka-luka tusukan yang datang dan masih membiarkan tekanan dari tembok kanan yang tidak dapat aku lawan sendirian. Jujur, aku butuh bantuan.
Dari arah yang lain, ada suatu tembok tipis, entah aku tak tahu apa itu tembok atau hanyalah tripleks -saking tipisnya- yang tercat indah warna-warni di sisi yang menghadap ke luar, dan warna hitam kelam di sisi yang menghadap padaku, menghimpitku. Setiap orang yang melihatku terhimpit oleh tembok itu berpikir betapa menyenangkannya tembok itu: tipis, indah, tercat warna-warni. Tapi sangat jauh berbeda dengan yang aku hadapi: aku merasa mengadapi tembok paling kelam, yang sangat rapuh, bahkan aku tak tega untuk melawannya, sehingga tembok itu sangat leluasa menghimpitku. Ya, mungkin kau sudah bisa menebak, itu adalah tembokmu.
Sakit rasanya menahan ini semua, ingin sesekali memberontak, banyak teman yang menyarankan untuk memilih salah satunya, sehingga bisa bersama mendorong tembok lainnya, dan aku bisa terbebas dari himpitan ini.
Mereka, biasanya, memilih mengikuti arah tembok yang lebih kuat. Realistis memang, karena tembokmu begitu rapuh, sangat, sangat mudah untuk dihancurkan olehku yang pastinya dibantu oleh kekuatan tembok tebal teman-teman.
Tapi aku tak tega, em... bukan, maksudnya tak mau, atau... tak bisa melakukan itu. Aku ingin kau bisa sadar dan bersama-sama kita ikuti kekuatan tembok tebal teman-teman seperjuangan. Ya, aku akan menunggu dengan terus berusaha tidak melawanmu. Aku menunggu dan mencoba terus berusaha membuatmu beralih arah dan mendorong bersama.
| Tembok |
-tak ada gading yang tak retak-
Minggu, 05 Februari 2012
KSS- Di Balik Layar
Oke, permulaannya, aku awali dengan memberitahu aja kalo pas nulis postingan ini besoknya aku ada 2 ujian remedial. Dasar akunya yang gimana, malah pengen ngepost sesuatu di sini. Hehe
Ini cerita di balik layar salah satu acara dari JMKI (Jaringan Mahasiswa Kesehatan Indonesia) wilayah Yogyakarta, yaitu acara KSS (Komunitas Sadar Sehat). FYI, KSS ini merupakan acara inti atau acara terpenting JMKI baik nasional maupun wilayah. Acara ini mirip acara pengabdian masyarakat yang pasti sudah sangat populer di semua kampus. Tapi, bedanya, KSS sedikit lebih "kompleks" dan "holistik" (insyaAllah :))
KSS tahun ini diadakan selama 3 bulan: dari Januari-Maret 2012. Dilaksanakan setiap weekend. Jadi, setiap weekend kita ke desa yang dituju dengan objek berbeda-beda tentunya. Dari semua episode KSS sampai saat ini, yang paling kerasa heroik adalah episode 4 Februari 2012.
Di tanggal 4 Februari 2012 kemarin, rencananya adalah pagi kita bersiap ke SD Muhammadiyah Gendol II dan Dukuh Sawahan. Semua bertempat di Kecamatan Seyegan, Sleman. Jam 7, seharusnya sudah sampai di SD, tapi berhubung badan sakit semua (alibi) jam 7 kurang baru nyampe di kontrakan Apink. Padahal buat meluncur ke TKP butuh waktu yang lumayaan.
Langsung kami berdua (ga janjian sama yang lain, soalnya kita udah tau tempatnya, hehe) meluncur ke TKP. Dimana kah TKP berada? Kalo daerahnya sih dari Terminal Jombor, setelah itu ada lampu merah belok kiri, teruuus........, terusss........, teruuuuuuss, sampe cebongan. Masih teruusss, teruss..... melewati jalan yang terjal nan berbatu (beneran!) dan kalo malam ga ada penerangan kecuali lampu motor sendiri, dan itu pun masih masuuuuuk. Dan alhamdulillah, sampe jugaa di SD nya. *fyuih
Sampe di sana. Tebak apa? Yah, baru ada beberapa gelintir manusia yang ada di sana. Alias panitianya belum lengkap. Aku sih fungsinya di sana sebagai SC (tugas konsep+rundown sudah kelar maka kelarlah tugas saya) dan satu lagi sebagai *ehem* pengisi untuk kesehatan gigi mulut. Jadi, sebenernya sangat ga guna ketika aku dan apink udah dateng tapi panitia tertentu (terutama perkap) belum dateng. Yah akhirnya kami cuma ngobrol-ngobrol sama guru dan kepsek SD. Hehe
Ga berapa lama, AKHIRNYA mereka datang. Padahal udah panik sebelumnya: acara jam 10 sudah harus selesai dan posisi jam 8 panitia belum juga lengkap. Yaudah lah ya, yang penting akhirnya bisa disiapkan dengan cukup kilat. Salut deh!
Pembukaan. Yah, pertama kali pasti acaranya pembukaan. Susahnya adalah kita harus ngumpulin semua siswa ke lapangan. Padahal siswanya cuma dikit banget. Per kelas paling sekitar 12 orang. Tapi itu super SUSAH. Kenapa? Soalnya merekacukup susah diajak baris, apalagi diajak memperhatikan acara pembukaan yang padahal cuma 10 menit aja. Astaga, ngalamat tidak baik.
Acara pembukaan selesai, anak-anak pun digiring ke kelas dengan dibagi menjadi 2 kelas besar: kelas 1-3 di kelas A dan kelas 4-6 di kelas B, untuk diberikan materi penyuluhan. Ada 2 materi penyuluhan: Penyuluhan tentang gizi dan Kesgilut. Prosedurnya kelas A akan dapat penyuluhan gizi terlebih dahulu dan kelas B dapat penyuluhan kesgilut terlebih dahulu. Setelah itu, ditukar. Untungnya, kami dapat yang kelas B terlebih dahulu: yah walaupun jekpot tapi kan yang jekpot dulu baru abis itu yang agak gampang. Hehe. FYI: ngehandle anak kelas 4-6 jauh lebih susah daripada kelas 1-3.
Daaan ekspektasi pun terbayar, yeah, anak-anak kelas 4-6 nya udah mulai pada tau suatu kata keramat, yaitu: MALAS.
Mereka mulai tau caranya males ngedengerin penjelasan dari *ehem* kami tentang gimana caranya menjaga kesehatan gigi dan mulut. Suimpel sanget sebenernya, tapi ya itu effort buat bikin anak-anaknya ngedengerin jauh lebih banyak daripada effort buat ngejelasin. Padahal kita udah coba buat semenarik mungkin lo, pake boneka tangan gitu, lucu dan cukup menarik sih harusnya -di SD yang pertama berhasil lho, pada ngedengerin dan tertarik gitu gara-gara pake boneka, hehe.
Pas udah kelar ngejelasin, tiba saatnya bagiin doorprize: ada 3 doorprize yang harus dibagikan buat mereka. Pake apa ya? Kita coba buat cari feedback dari mereka. Tapi, walaupun ada hadiah -dan pengalamanku waktu kecil aku suka banget hadiah dengan mengorbankan suatu hal pun- tetep aja mereka ga ada yang ngacung dan menjadi volunteer. Aaaah, akhirnya harus nggeret salah tiga dari mereka untuk "dipaksa" memberikan feedback dan akhirnya tugas kami selesai di kelas B. Alhamdulillah.....yakin deh kayak mau sujud syukur waktu itu, hahahaha *lebay
(to be continued, udah ngantuk boy, mana ini kerjaan belom kelar, hohoho)
Ini cerita di balik layar salah satu acara dari JMKI (Jaringan Mahasiswa Kesehatan Indonesia) wilayah Yogyakarta, yaitu acara KSS (Komunitas Sadar Sehat). FYI, KSS ini merupakan acara inti atau acara terpenting JMKI baik nasional maupun wilayah. Acara ini mirip acara pengabdian masyarakat yang pasti sudah sangat populer di semua kampus. Tapi, bedanya, KSS sedikit lebih "kompleks" dan "holistik" (insyaAllah :))
KSS tahun ini diadakan selama 3 bulan: dari Januari-Maret 2012. Dilaksanakan setiap weekend. Jadi, setiap weekend kita ke desa yang dituju dengan objek berbeda-beda tentunya. Dari semua episode KSS sampai saat ini, yang paling kerasa heroik adalah episode 4 Februari 2012.
Di tanggal 4 Februari 2012 kemarin, rencananya adalah pagi kita bersiap ke SD Muhammadiyah Gendol II dan Dukuh Sawahan. Semua bertempat di Kecamatan Seyegan, Sleman. Jam 7, seharusnya sudah sampai di SD, tapi berhubung badan sakit semua (alibi) jam 7 kurang baru nyampe di kontrakan Apink. Padahal buat meluncur ke TKP butuh waktu yang lumayaan.
Langsung kami berdua (ga janjian sama yang lain, soalnya kita udah tau tempatnya, hehe) meluncur ke TKP. Dimana kah TKP berada? Kalo daerahnya sih dari Terminal Jombor, setelah itu ada lampu merah belok kiri, teruuus........, terusss........, teruuuuuuss, sampe cebongan. Masih teruusss, teruss..... melewati jalan yang terjal nan berbatu (beneran!) dan kalo malam ga ada penerangan kecuali lampu motor sendiri, dan itu pun masih masuuuuuk. Dan alhamdulillah, sampe jugaa di SD nya. *fyuih
Sampe di sana. Tebak apa? Yah, baru ada beberapa gelintir manusia yang ada di sana. Alias panitianya belum lengkap. Aku sih fungsinya di sana sebagai SC (tugas konsep+rundown sudah kelar maka kelarlah tugas saya) dan satu lagi sebagai *ehem* pengisi untuk kesehatan gigi mulut. Jadi, sebenernya sangat ga guna ketika aku dan apink udah dateng tapi panitia tertentu (terutama perkap) belum dateng. Yah akhirnya kami cuma ngobrol-ngobrol sama guru dan kepsek SD. Hehe
Ga berapa lama, AKHIRNYA mereka datang. Padahal udah panik sebelumnya: acara jam 10 sudah harus selesai dan posisi jam 8 panitia belum juga lengkap. Yaudah lah ya, yang penting akhirnya bisa disiapkan dengan cukup kilat. Salut deh!
Pembukaan. Yah, pertama kali pasti acaranya pembukaan. Susahnya adalah kita harus ngumpulin semua siswa ke lapangan. Padahal siswanya cuma dikit banget. Per kelas paling sekitar 12 orang. Tapi itu super SUSAH. Kenapa? Soalnya mereka
Acara pembukaan selesai, anak-anak pun digiring ke kelas dengan dibagi menjadi 2 kelas besar: kelas 1-3 di kelas A dan kelas 4-6 di kelas B, untuk diberikan materi penyuluhan. Ada 2 materi penyuluhan: Penyuluhan tentang gizi dan Kesgilut. Prosedurnya kelas A akan dapat penyuluhan gizi terlebih dahulu dan kelas B dapat penyuluhan kesgilut terlebih dahulu. Setelah itu, ditukar. Untungnya, kami dapat yang kelas B terlebih dahulu: yah walaupun jekpot tapi kan yang jekpot dulu baru abis itu yang agak gampang. Hehe. FYI: ngehandle anak kelas 4-6 jauh lebih susah daripada kelas 1-3.
Daaan ekspektasi pun terbayar, yeah, anak-anak kelas 4-6 nya udah mulai pada tau suatu kata keramat, yaitu: MALAS.
Mereka mulai tau caranya males ngedengerin penjelasan dari *ehem* kami tentang gimana caranya menjaga kesehatan gigi dan mulut. Suimpel sanget sebenernya, tapi ya itu effort buat bikin anak-anaknya ngedengerin jauh lebih banyak daripada effort buat ngejelasin. Padahal kita udah coba buat semenarik mungkin lo, pake boneka tangan gitu, lucu dan cukup menarik sih harusnya -di SD yang pertama berhasil lho, pada ngedengerin dan tertarik gitu gara-gara pake boneka, hehe.
Pas udah kelar ngejelasin, tiba saatnya bagiin doorprize: ada 3 doorprize yang harus dibagikan buat mereka. Pake apa ya? Kita coba buat cari feedback dari mereka. Tapi, walaupun ada hadiah -dan pengalamanku waktu kecil aku suka banget hadiah dengan mengorbankan suatu hal pun- tetep aja mereka ga ada yang ngacung dan menjadi volunteer. Aaaah, akhirnya harus nggeret salah tiga dari mereka untuk "dipaksa" memberikan feedback dan akhirnya tugas kami selesai di kelas B. Alhamdulillah.....yakin deh kayak mau sujud syukur waktu itu, hahahaha *lebay
(to be continued, udah ngantuk boy, mana ini kerjaan belom kelar, hohoho)
Selasa, 31 Januari 2012
dari seorang teman :)
Ini adalah salah satu sms temenku yang aku masih simpen di HPku yang udah bulukan,
Yah mungkin aja bisa dibaca dari yang lain (aku lupa sumber aslinya apa)
Ini dia:
"Ketika Allah menjawab doamu, Ia meminta imanmu.
Saat Allah belum menjawab doamu, Ia meminta kesabaranmu.
Saat Allah menjawab tapi bukan doamu, Ia memberi yang terbaik untukmu."
Allah tidak memberi apa yang kita harapkan, tetapi Allah akan selalu memberi apa yang terbaik buat kita.
Semangat ya.
Semangat juga ya kawan, yang sekarang sudah merantau menuntut ilmu. Kita sama-sama mengejar impian dan harapan kita, dan semoga Allah masih memberikan kita nikmat Iman sampai akhir hayat nanti.
:)
Yah mungkin aja bisa dibaca dari yang lain (aku lupa sumber aslinya apa)
Ini dia:
"Ketika Allah menjawab doamu, Ia meminta imanmu.
Saat Allah belum menjawab doamu, Ia meminta kesabaranmu.
Saat Allah menjawab tapi bukan doamu, Ia memberi yang terbaik untukmu."
Allah tidak memberi apa yang kita harapkan, tetapi Allah akan selalu memberi apa yang terbaik buat kita.
Semangat ya.
Semangat juga ya kawan, yang sekarang sudah merantau menuntut ilmu. Kita sama-sama mengejar impian dan harapan kita, dan semoga Allah masih memberikan kita nikmat Iman sampai akhir hayat nanti.
:)
Langganan:
Postingan (Atom)


